Cara Mudah Menjadi Wali

Ketika disebut kata wali maka yang langsung terbayang dalam benak kita adalah seorang yang punya suatu keanehan, ke-nyleneh-an, dan kesaktian atau kedigdayaan.  di masyarakat wali adalah gelar yang memiliki prestise tinggi. Orang yang dianggap sudah mencapai derajat wali, segala tindakan dan ucapannya bak titah raja, harus diterima dan dilaksanakan meski tak jarang melanggar syariat. Itulah yang dapat ditangkap dari pemahaman masyarakat terhadap wali ini. Maka bila ada orang yang bertingkah aneh, apalagi kalau sudah dikenal sebagai kyai, mempunyai indera keenam sehingga mengerti semua yang belum terjadi, segera disebut sebagai wali. Lalu siapakah wali Alloh yang sebenarnya? dan bagaimana kita agar menjadi wali ?

Pengertian Wali.

Allah berfirman,

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang beriman dan selalu bertaqwa.” (Yunus: 62 – 64)

dari ayat ini dapat diketahui bahwa wali Alloh adalah semua orang yang beriman dan bertaqwa.

Secara etimologi, kata wali adalah lawan dari ‘aduwwu (musuh) dan muwaalah adalah lawan dari muhaadah (permusuhan). Maka wali Allah adalah orang yang mendekat dan menolong (agama) Allah atau orang yang didekati dan ditolong Allah. Definisi ini semakna dengan pengertian wali dalam terminologi Al Qur’an, sebagaimana ayat diatas.

Syarat pertama :

Beriman : beriman kepada Allah dan apa yang datang dari-Nya yang termaktub dalam Al Qur’an dan terucap melalui lisan Rosul-Nya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya yang berjudul Al Furqon Baina Auliya’ir Rohman wa Auliya’us Syaithon hlm. 34 mengatakan: “Wali Allah hanyalah orang yang beriman kepada Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam, beriman dengan apa yang dibawanya, dan mengikuti secara lahir dan batin. Barangsiapa yang mengaku mencintai Allah dan wali-Nya, namun tidak mengikuti beliau maka tidak termasuk wali Allah bahkan jika dia menyelisihinya maka termasuk musuh Allah dan wali setan. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’.” (Ali Imron: 31)

Syarat kedua :

bertaqwa : memegang teguh syariatnya lahir dan batin, lalu terus menerus memegangi itu semua dengan dibarengi muroqobah (terawasi oleh Allah), kontinyu dengan sifat ketaqwaan dan waspada agar tidak jatuh ke dalam hal-hal yang dimurkai-Nya berupa kelalaian menunaikan wajib dan melakukan hal yang diharomkan (Lihat Muqoddimah Karomatul Auliya’, Al-Lalika’i, Dr. Ahmad bin Sa’d Al-Ghomidi, 5/8).

Ibnu Katsir rohimahulloh menafsirkan: Allah Ta’ala menginformasikan bahwa para wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Siapa saja yang bertaqwa maka dia adalah wali Allah (Tafsir Ibnu Katsir, 2/384).

Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh juga menjelaskan dalam Syarah Riyadhus Shalihin no.96, bahwa wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Mereka merealisasikan keimanan di hati mereka terhadap semua yang wajib diimani, dan mereka merealisasikan amal sholih pada anggota badan mereka, dengan menjauhi semua hal-hal yang diharamkan seperti meninggalkan kewajiban atau melakukan perkara yang harom. Mereka mengumpulkan pada diri mereka kebaikan batin dengan keimanan dan kebaikan lahir dengan ketaqwaan, merekalah wali Allah.

Dari uraian di atas, terlihat bahwa cakupan definisi wali ini begitu luas, mencakup setiap orang yang memiliki keimanan dan ketaqwaan. Maka wali Allah yang paling utama adalah para nabi. Para nabi yang paling utama adalah para rasul. Para Rasul yang paling utama adalah ‘ulul azmi. Sedang ‘ulul azmi yang paling utama adalah Nabi kita Muhammad ShallAllahu ‘alaihi wa sallam.

maka jika ada orang yang mengaku wali, atau dikatakan wali, namun ia tidak memenuhi 2 syarat tsb. maka sesungguhnya dia bukan wali Alloh. Jika ada orang yang mengaku wali namun ia tidak beriman kepada Alloh, malaikat, kitab-Nya, para Nabi, hari akhir dan takdir dan tidak beriman sebgaimana imannya para sahabat, maka dia bukan wali Alloh. Jika ada orang yang mengaku wali namun ia tidak bertaqwa, beribadah kepada Alloh, tidak menghiraukan halal haram, bahkan perilakunya persis orang gila dan menyelisihi syariat, maka dia bukan wali Alloh.

Karena derajat keimanan dan ketakwaan bertingkat-tingkat, maka derajat kewalian –yaitu kecintaan dan pertolongan Allah pada hamba-Nya- juga bertingkat-tingkat. Yang dimaksud dengan wali adalah orang yang senantiasa menyempurnakan keimanan dan ketakwaan sesuai dengan kemampuannya serta sebagian besar kondisinya berada dalam keimanan dan ketakwaan

Bagaimana menjadi wali Alloh ?

renungkan hadits ini :

وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله: إن الله تعالى قال: من عاد لي وليا، فقد آذنته بالحرب، وما تقرب إلى عبدي بشيء أحب إلي مما افترضته عليه، ولا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه، فإذا أحببته، كنت سمعه الذي يسمع به، وبصره الذي يبصر به، ويده التي يبطش بها، ورجله التي يمشي بها، ولئن سألني لأعطينه، ولئن استعاذني لأعيذنه رواه البخاري

Dari Abu Huriroh rodhiAllahu ta’ala ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah ta’ala berfirman, barang siapa memusuhi wali-Ku maka aku izinkan untuk diperangi. Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amal ibadah yang lebih aku cintai dari pada perkara yang Aku wajibkan. Hamba-Ku akan senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, Akulah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Akulah penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, Akulah tangannya yang dia gunakan untuk berbuat, Akulah kakinya yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku akan Aku berikan, jika dia meminta perlindungan pada-Ku, akan Aku lindungi.” (HR. Bukhari)

Hadits yang mulia ini menjelaskan bagaimana agar manusia mencapai derajat wali Alloh, yaitu dengan 2 hal :

Pertama :

“mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amal ibadah yang lebih aku cintai dari pada perkara yang Aku wajibkan”. yaitu mengamalkan amalan wajib/fardhu.

kedua :

“Hamba-Ku akan senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya”. yaitu dengan mengamalkan amalan sunnah.

dari penjelasan diatas maka ada 2 macam tingkatan wali, yaitu

1. wali yang beramal dengan amalan wajib dan sunnah hingga Alloh mencintainya. ini adalah tingkatan wali yang tertinggi.

2. wali yang beramal dengan amalan wajib saja. ini pun sudah dikatakan sebagai wali, hanya saja lebih rendah tingkatannya dari yang pertama.

maka barang siapa yang mengaku wali, namun ia tidak pernah beribadah yang wajib (sholat, puasa, zakat dll), apalagi sunnah, bahkan membenci sebagian sunnah (seperti berjenggot, tidak isbal, dan sunnah sunnah lain yang sering dibenci), maka dia bukan wali Alloh !!

Hasan Al Bashri berkata, “Suatu kaum mengklaim mencintai Allah, lantas Allah turunkan ayat ini sebagai ujian bagi mereka.”
Allah menjelaskan dalam ayat tersebut, barangsiapa mengikuti Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam maka Allah akan mencintainya. Namun siapa yang mengklaim mencintai-Nya tapi tidak mengikuti beliau Sallallahu ‘Alaihi Wasallam maka bukan termasuk wali Allah. Walaupun banyak orang menyangka dirinya atau selainnya sebagai wali Allah, tetapi kenyataannya mereka bukanlah wali-Nya.

lalu bagaimana jika orang tersebut punya banyak kesaktian, mengaku tahu hal yang goib, dan seabreg keanehan dan kelebihan?

ketahuilah, selain ada wali Alloh ada juga wali syaithon !!

wali syaiton ini lah yang mengelabuhi manusia, ia mendapatkan berbagai kemampuan aneh karena bekerjasama dengan syaiton, naudzubillah. karena karomah dan sihir ada perbedaannya :

Karomah :

kejadian di luar kebiasaan yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba tanpa disertai pengakuan (pemiliknya) sebagai seorang nabi, tidak memiliki pendahuluan tertentu berupa doa, bacaan, ataupun dzikir khusus, yang terjadi pada seorang hamba yang shalih, baik dia mengetahui terjadinya (karamah tersebut) ataupun tidak, dalam rangka mengokohkan hamba tersebut dan agamanya. (Syarhu Ushulil I’tiqad, 9/15 dan Syarhu Al Aqidah Al Wasithiyah, 2/298 karya Asy Syaikh Ibnu Utsaimin—rahimahullah).

Karomah itu tanpa dipelajari, dan tidak bisa diulang-ulang dan dimainkan sesuka hatinya dan tidak bisa diwariskan atau diturunkan (sebagaimana ilmu tenaga dalam, metafisik, dkk).

Sihir :

datangnya dari syaiton dan bisa dipelajari, bisa diturunkan / diwariskan asalkan memenuhi persyaratan syaiton tsb.

maka benarlah apa yang di ucapkan oleh Imam Syafi’i rohimahulloh.

Al Imam Asy Syafi’i—rahimahullah—berkata, “Apabila kalian melihat seseorang berjalan di atas air atau terbang di udara maka janganlah mempercayainya dan tertipu dengannya sampai kalian mengetahui bagaimana dia dalam mengikuti Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.” (A’lamus Sunnah Al Manshurah hal. 193).

K.H. Hasyim Al Asy’ari—rahimahullah—(tokoh pendiri Nahdlatul Ulama, NU) berkata, “Barangsiapa yang mengaku sebagai wali Allah tanpa mengikuti sunnah, maka pengakuannya adalah kebohongan.” (Ad Durar Al Muntasirah, hal. 4).

Namun sangat disayangkanbanyak masyarakat menilai bahwa para wali itu senantiasa memiliki kesaktian yang dapat digunakan sewaktu-waktu dan mengatahui yang ghoib !!

Maka keliru, pemahaman yang berkembang di masyarakat kita saat ini, bahwa wali itu identik dengan ulama atau kyai yang memiliki keajaiban dan ilmu yang aneh-aneh. Meskipun dia adalah seorang kyai yang banyak meninggalkan kewajiban syariat, pernyataannya sering merugikan dan menyakiti umat Islam, mengobok-obok syariat, bahkan menjadi penolong musuh-musuh Allah, Yahudi dan Nasrani.

“Di sisi-Nya (Allah) segala kunci-kunci yang gaib, tiada yang dapat mengetahuinya kecuali Dia (Allah)”. (QS. Al An’aam, ayat : 59). Dan firman Allah, “Katakanlah” :tiada seorang pun di langit maupun di bumi yang dapat mengetahui hal yang gaib kecuali Allah”. (QS. An Naml, ayat: 65).

So. mudahkan untuk bisa menjadi wali Alloh ? hanya butuh niat dan amal sholih..

(diramu dari berbagai sumber)



24 Tanggapan ke “Cara Mudah Menjadi Wali”

  1. Taram1928 Says:

    Iya emg mudah jadi wali allah…Berarti kalo pengen jadi waliyullah ckup dengan ibadah y bro…

  2. sunan gunung jati al karomah Says:

    Kalo yang ini aku sejalan dengan anda…..setuju….
    Allah Berfirman :
    Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan

    walaupun ayatnya singkat namun padat…..

  3. sunan gunung jati al karomah Says:

    Allah berfirman :
    “Di sisi-Nya (Allah) segala kunci-kunci yang gaib, tiada yang dapat mengetahuinya kecuali Dia (Allah)”. (QS. Al An’aam, ayat : 59). Dan firman Allah, “Katakanlah” :tiada seorang pun di langit maupun di bumi yang dapat mengetahui hal yang gaib kecuali Allah”. (QS. An Naml, ayat: 65).

    Meskipun demikian, anda jangan terburu-buru dalam mengambil kesimpulan. Memang dalam ayat tersebut al-qur’an menjelaskan sedemikian rupa, akan tetapi para ulama ahli tafsir sepakat bahwa, ada orang-orang tertentu (kekasih Allah) di dunia ini yang memang di izini atau diberi tahu oleh Allah SWT dalam masalah kegaiban tersebut.
    Sumber:KH.Ihsan Ponco kusumo malang, Pondok Salafiyah Pasuruan
    bagaimana menurut anda ………?

    • ibnu fauzy Says:

      ” ulama ahli tafsir sepakat bahwa, ada orang-orang tertentu (kekasih Allah) di dunia ini yang memang di izini atau diberi tahu oleh Allah SWT dalam masalah kegaiban tersebut.”
      Pertanyaannya : siapakah ahli tafsir yang mengatakan seperti itu ?? adakah dalil yang mendukungnya ? adakah hal itu bersumber dari pendapat para salafussholih ??

      • Abdurrahman Says:

        Dalilnya didalam surat ashabul kafi tentang perjalanan Nabi Musa A.S dan Nabi Khidir A.S, dimana Nabi Khidir A.S dengan seizin Allah SWT, memberikan pelajaran berupa hikmah laduni kepada Nabi Musa A.S. semua diluar syareat ~ Nabi Khidir AS membunuh seorang anak, melubangi kapal, dan meruntuhkan bangunan yg bukan miliknya, apabila dikaji dengan penglihatan ilmu awam maka hal ini tidak bisa diterima, namun tersembunyi hikmah kebaikan didalamnya, Pastilah Allah SWT yang maha Ilmu, yang memberikan sir/rahasia ilmu pengetahuan kepada hambanya yang dikehendaki : Nabi Khidir AS, serta para Muqorobin/auliulloh hamba2 yg sholeh yg diberikan Al-Mukasyafah oleh Allah SWT. Allahu A’lam bishowab.
        Al-Faqir Aburrahman

  4. sunan gunung jati al karomah Says:

    Nabi SAW bersabda :” Barang siapa yang berfatwa dalam masalah agama, tanpa ada ilmu maka baginya laknat Allah, malaikat dan manusia seluruhnya ” (HR. Imam suyuti).

    Hadits riwayat Ali bin Abi Thalib Ra:
    “Ilmu batin merupakan salah satu rahasia Allah ‘Azza wa Jalla, dan salah satu dari hukum-hukum-Nya yang Allah masukkan kedalam hati hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya”.

    Hadits At Tirmidzi :
    “Ini bukan bisikan-bisikan syaithan, tapi ilmu laduni ini merubah firasat seorang mukmin, bukankah firasat seorang mukmin itu benar? Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam:
    “Hati-hati terhadap firasat seorang mukmin. Karena dengannya ia melihat cahaya Allah”. (H.R At Tirmidzi).

    Bagaimana mas Fauzy pendapat anda…..tentang hadits ini….

    • ibnu fauzy Says:

      hadits Ali bin Abi tholib radhiallahi di atas Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi di dalam kitab Al Wahiyaat 1/74, beliau berkata: “Hadits ini tidak shahih dan secara mayoritas para perawinya tidak dikenal”. Al Imam Adz Dzahabi berkata: “Ini adalah hadits batil”. Asy Syaikh Al Albani menegaskan bahwa hadits ini palsu. (Lihat Silsilah Adh Dha’ifah no 1227)
      sedangkan hadits kedua : Hadits ini dho’if (lemah), sehingga tidak boleh diamalkan. Karena ada seorang perawi yang bernama Athiyah Al Aufi. Selain dia seorang perawi yang dho’if, diapun suka melakukan tadlis (penyamaran hadits).
      silahkan lihat https://kaahil.wordpress.com/2010/06/20/mengenal-ilmu-kasyafilmu-laduni-rijalul-ghaib-ilmu-batin-wali-wali-atau-gus-gus-itu-beda-tingkatan-dengan-kita-mereka-sudah-sampai-tingkatan-ma%E2%80%99rifat-yang-tidak-boleh-ditimbang-dengan/

      • sunan gunung jati al karomah Says:

        Allah berfirman : “Takutlah kepada Allah niscaya Allah akan mengajari kalian“ (Qs. Al baqarah ayat 282)
        Nabi Muhammad Saw. bersabda yang maksudnya : “Barangsiapa mengikhlashkan dirinya kepada Allah (dalam beribadah) selama 40 hari maka akan zhahir sumber-sumber hikmah daripada hati melalui lidahnya”. (HR. Abu Dawud dan Abu Nu’man dalam alhilyah).
        Nabi SAW bersabda :” BARANGSIAPA YANG MENGAMALKAN ILMU YANG IA KETAHUI MAKA ALLAH AKAN MEMBERIKAN KEPADANYA ILMU YANG BELUM IA KETAHUI”
        Nabi saw bersbda
        “Barang siapa yang takutnya hanya kpd Allah maka Smua makhuq akan takut/tunduk padanya. Barangsiapa takut/tunduknya kpd selain Allah maka semua makhluq akan (menjadi asbab) ketakutan baginya “
        Allah berfirman:
        “Dan orang-orang yang berjuang di jalan kami (berjihad dan mendakwahkan agama) maka akan kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang ihsan (muhsinin) (QS Al’ankabut [69] ayat 69).
        Lafadz “ subulana” atau “jalan-jalan kami” bermakna juga “jalan-jalan petunjuk dari Allah” atau “jalan-jalan hidayah (ilmu-ilmu islam yang haq)”.
        Sebagaimana juga dalam hadits qudsi (kurang lebih maknanya) tatkala Allah menceritakan keutamaan umat akhir zaman kepada Nabi isa as.,
        Dari Abu Darda Ra. berkata : “Aku mendengar Rasulullah Saw. Bersabada, “Sesungguhnya Allah Swt berfirman kepada Isa As. : “Aku akan mengirimkan satu umat setelahmu (ummat Muhammad Saw.), yang jika Aku murah hati pada mereka, mereka bersyukur dan bertahmid, dan jika Aku menahan diri, mereka sabar dan tawakal tanpa [harus] mempunyai hilm (kemurahan/kemurahan hati) dan ‘ilm (ilmu) .” Isa bertanya: “Bagaimana mereka bisa seperti itu ya Allah, tanpa hilm dan ‘ilm?” Allah menjawab: “Aku memberikan mereka sebagian dari hilmKu dan ‘ilmu-Ku.” [HR. Hakim. Katanya Hadits ini shahihmenurut syarat Bukhary, tetapi ia tidak meriwayatkannya, sedangkan adzahaby menyepakatinya". I/348]
        Keterangan : Hadits ini juga terdapat pada Muntakhab hadits SyaikhulHadits Maulana Yusuf, Hadits No. 27, Bab ikhlash dan Juga terdapat pada kitab Ucapan Nabi Isa as dalam kisah-kisah literature umat islam, Tarif Khalidi.

        Bagaiman mas Fauzy pendapat anda tentang ayat dan hadits di atas…..

      • sunan gunung jati al karomah Says:

        Imam Ibnu Katsir menyebutkan:
        وقد نبه الشيخ أبو عمرو ههنا على أنه لا يلزم من الحكم بضعف سند الحديث المعير الحكم بضعفه في نفسه، إذ قد يكون له إسناد آخر، إلا أن ينص إمام على أنه لا يروى إلا من هذا الوجه. (الباعث الحثيث شرح اختصار علوم الحديث للحافظ ابن كثير، أحمد مجمد شاكر، دار الكتب العلمية، بيروت، ص. 85)
        “Dan Syaikh Abu ‘Amr telah memperingati di sini bahwasanya tidak lazim menghukumi kedha’ifan sanad (jalur riyawat) suatu hadis yang dianggap cacat semata-mata dari hukum dha’ifnya sanad hadis tersebut, dikarenakan ter kadang hadis itu memiliki pensanadan (jalur periwayatan) lain, kecuali bila ada seorang Imam hadis yang menyatakan bahwa hadis tersebut tidak diriwayatkan kecuali hanya melalui jalur ini.” (Lihat al-Ba’its al-Hatsits Syarh Ikhtishar ‘Ulum al-Hadits lilhafizh Ibni Katsir, Ahmad Muhammad Syakir, Dar al-Kutub al-’Ilmiyah, Beirut, hal. 85).
        Pada kitab dan halaman yang sama, Syaikh Ahmad Muhammad Syakir menerangkan ungkapan itu dengan penjelasan berikut:
        من وجد حديثا بإسناد ضعيف، فلأحوط أن يقول: “إنه ضعيف بهذا الإسناد”، ولا يحكم بضعف المتن –مطلقا من غير تقييد- بمجرد ضعف ذلك الإسناد، فقد يكون الحديث واردا بإسناد آخر صحيح، إلا أن يجد الحكم بضعف المتن منقولا عن إمام من الحفاظ والمطلعين على الطرق.
        “Siapa yang mendapati sebuah hadis dengan pensanadan (jalur periwayatan) yang dha’if, maka yang lebih aman hendaknya ia berkata, ‘sesungguhnya hadis ini dha’if dengan jalur periwayatan ini’, dan matan (redaksi/lafaz) hadis tersebut tidak dihukumi dha’if –secara umum tanpa ikatan— semata-mata karena lemahnya jalur periwayatan tersebut, maka terkadang hadis tersebut datang (diriwayatkan) dengan jalur periwayatan lain yang shahih, kecuali bila ditemukan hukum kedha’ifan matan (redaksi/lafaz)nya yang dinukil dari seorang Imam dari kalangan Huffazh (penghafal hadis) yang meneliti jalan-jalannya (jalur-jalur periwayatan hadis).
        Penjelasan di atas adalah kelaziman yang harus dilakukan seorang penerima hadis pada saat ia mendapatkan informasi bahwa suatu hadis itu dha’if (lemah), di mana ia tidak serta merta langsung menyatakan hukum dha’if secara mutlak, apalagi menyatakan bahwa hadis dha’if tersebut tidak boleh diamalkan atau dijadikan hujjah atau dalil.
        Hadis dha’if berbeda dari hadis maudhu’ (palsu). Hadis dha’if tetap harus diakui sebagai hadis, dan menjadikannya sebagai dalil atau dasar untuk melakukan suatu amalan kebaikan yang berkaitan dengan fadha’il al-a’mal (keutamaan amalan) adalah sah menurut kesepakan para ulama hadis. Perhatikan isyarat-isyarat para ulama berikut ini:
        مع أنهم أجمعوا على جواز العمل بالحديث الضعيف في فضائل الأعمال (شرح سنن ابن ماجه ج: 1 ص: 98)
        “… sementara mereka (para ahli hadis) telah berijma’ (bersepakat) atas bolehnya mengamalkan hadis dha’if (lemah) di dalam fadha’il al-a’mal (keutamaan amalan)” (lihat Syarh Sunan Ibnu Majah, juz 1, hal. 98).
        باب التشدد في أحاديث الأحكام والتجوز في فضائل الأعمال. قد ورد واحد من السلف انه لا يجوز حمل الأحاديث المتعلقة بالتحليل والتحريم الا عمن كان بريئا من التهمة بعيدا من الظنة واما أحاديث الترغيب والمواعظ ونحو ذلك فإنه يجوز كتبها عن سائر المشايخ (الكفاية في علم الرواية، الخطيب البغدادي، ج. 1، ص. 133)
        “Bab bersikap ketat pada hadis-hadis hukum, dan bersikap longgar pada fadha’il al-a’mal. Telah datang satu pendapat dari seorang ulama salaf bahwasanya tidak boleh membawa hadis-hadis yang berkaitan dengan penghalalan dan pengharaman kecuali dari orang (periwayat) yang terbebas dari tuduhan, jauh dari dugaan. Adapun hadis-hadis targhib (stimulus/anjuran) dan mawa’izh (nasehat) dan yang sepertinya, maka boleh menulisnya (meriwayatkannya) dari seluruh masyayikh (para periwayat hadis)” (lihat al-Ba’its al-Hatsits Syarh Ikhtishar ‘Ulum al-Hadits lilhafizh Ibni Katsir, Ahmad Muhammad Syakir, Dar al-Kutub al-’Ilmiyah, Beirut, hal. 85).
        قال: ويجوز رواية ما عدا الموضوع في باب الترغيب والترهيب، والقصص والمواعظ، ونحو ذلك، إلا في صفات الله عز وجل، وفي باب الحلال والحرام. (الباعث الحثيث شرح اختصار علوم الحديث للحافظ ابن كثير، أحمد مجمد شاكر، دار الكتب العلمية، ص. 85)
        “(Ibnu Katsir) berkata: ‘Dan boleh meriwayatkan selain hadis maudhu’ (palsu) pada bab targhib (stimulus/anjuran) dan tarhib (ancaman), kisah-kisah dan nasehat, dan yang seperti itu, kecuali pada sifat-sifat Allah ‘Azza wa Jalla dan pada bab halal & haram”(lihat al-Ba’its al-Hatsits Syarh Ikhtishar ‘Ulum al-Hadits lilhafizh Ibni Katsir, Ahmad Muhammad Syakir, Dar al-Kutub al-’Ilmiyah, Beirut, hal. 85).

      • ibnu fauzy Says:

        maka bagi ulama ahli hadits mereka tidak sembarangan dlm menilai keshahihan sebuah hadits. beda dg kita yang awam maka jangan mudah menshohih/dhoifkan hadits tanpa merujuk pendapat ulama ahlul hadits. memang benar hadits dhoif menurut sebagian ulama bisa diamalkan khusus untuk targhib dan tarhib. atau juga untuk fadhoilul amal. namun ada beberapa syarat yg ketat diantaranya Syarat-syarat tersebut adalah: (1) Hendaknya hadits tersebut bukanlah hadits yang sangat dho’if/lemah, (2). Hendaknya hadits tersebut masuk di bawah hadits shohih (atau hasan, pen) yang umum, (3) Di dalam mengamalkannya tidak diyakini keshohihannya, (4) Hadits ini tidak boleh dipopulerkan.dan Hadits dho’if tersebut memiliki ashlun (hadits pokok) dari hadits shahih, artinya ia berada di bawah kandungan hadits shahih..
        Dari sini menunjukkan bahwa hadits dho’if tidak boleh digunakan untuk menentukan suatu amalan kecuali jika ada hadits shahih lain yang mendukungnya. Karena di sini hanya disebutkan boleh hadits dho’if untuk memotivasi beramal atau menakut-nakuti, bukan untuk menentukan dianjurkannya suatu amalan kecuali jika ada hadits shahih yang mendukung hal ini. Perhatikanlah! Misalnya ada hadits dho’if mengenai amalan pada malam nishfu sya’ban. Kalau landasannya dari hadits dho’if tanpa pendukung dari hadits shahih, maka tidak boleh digunakan sama sekali sebagai landasan untuk beramal.
        namun hsdits dhoif tidak bisa digunakan untuk hukum.
        oh ya antum ambil artikel dari mana tuh..?

      • Abu Umar Says:

        akh ibnu fauzy….saya undang anda untuk ikut dan aktif dalam diskusi di http://myquran.com/forum/showthread.php/21007-Kerancuan-Albani-Dalam-Menilai-Hadis/page13
        ada salah satu hadist tersebut yang sedang diperbincangkan…
        Tafadhol akhi…

  5. sunan gunung jati al karomah Says:

    satu pesan untuk mas Fauzy…..Allah Berfirman:
    ” Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.al hujurat 49

  6. sunan gunung jati al karomah Says:

    Para ulama ahli tafsir sepakat bahwa, ada orang-orang tertentu (kekasih Allah) di dunia ini yang memang di izini atau diberi tahu oleh Allah SWT dalam masalah kegaiban tersebut.
    Sumber:KH.Ihsan Ponco kusumo malang, Pondok Salafiyah Pasuruan.
    minta pendapatnya mas mohon di jawab atas pertanyaan saya ini….yang masih awam dalam mempelajari Al Qur’an….?

  7. erdi Says:

    asyik juga mengikuti perang hadist antara sunan gunung jati dan mas fauzy…..ini. Tanpa menampik pendapatnya masing masing mengenai ke walian seseorang, semuanya sama sama benar barangkali masing masing mempunyai dalil dalil dengan dikuatkan dengan hadist hadist, jadi kenapa harus menunjukan kebenarannya sendiri2, wali wali Allah itu ada sampai sekarang dan diturunkan kepada orang orang yang telah dipilihNya dan biasanya tidak berciri apapun, hanya yang bisa ditandai dengan omongannya dan bicaranya lemah lembut dan yang mendengarnya akan sejuk hatinya karena yang keluar dari mulutnya adalah kata kata Alqur’an yang ada pada dirinya, dan jarang mencabut dalil dalil dari alkitab untuk membenarkan pendapatnya, tugasnya menyampaikan saja, dan tidak berfikir untuk maksud merubah seseorang, mau dijalankan atau tidak terserah saja, karena Allah SWT sajalah yang mempunyai hak merubah seseorang bukan dirinya. Dan sebagai wali Allah tidak pernah ada yang tahu selain dia dengan Allah SWT saja dan tidak mengaku ngaku dirinya wali Allah….kecuali orang lain menyebutnya itu hal lain.
    Yang mengagetkan saya dalam diskusi ini adalah adanya istilah wali Allah dan wali syaiton….apapula bentuknya wali syaiton ini ? bingung aku. Kenapa wali ada gurunya syaiton, setahu saya wali ya wali dan pastilah orang mendapat petunjuk dari Allah SWT, tidak ada wali yang berguru kepada syaiton….. mungkin yang dimaksud bukan wali, tetapi orang yang telah disesatkan oleh syaiton agar menyimpang dari perintah Allah SWT. Kalaupun toh ada sebagian masyarakat yang membayangkan bahwa seorang wali Allah itu mempunyai kharomah yang bermacam macam, itu karena mereka belum memahami saja karena merekapun baru sekedar baru menerima informasi tentang ke walian seseorang dan pasti tidak semua, bagi yang paham tentu akan diam saja, bagi yang belum paham ya berdiskusi semacam ini, tanpa menonjolkan ego masing masing, kan kita belum ketemu satupun wali di dunia ini secara langsung, hanya baru memperoleh sekedar informasi tentang ciri ciri ke walian seseorang, itupun harus kita buktikan dulu kebenarannya caranya….bertanya saja kepada yang menurunkannya yaitu Allah SWT, yakin pasti ada jawabannya cepat atau lambat. Dan untuk tidak menimbulkan perdebatan yang nggak ada ujunngnya masalah wali ini sudah pasti ada, mengenai ada atau tidak wali 9 itu tidak perlu diperdebatkan karena kita baru anak kemarin yang memperoleh informasi dari para kiay atau melalui buku buku bacaan dan tidak mengalaminya, yang jelas hakkul yakin para wali 9 itupun tidak pernah mau mengakui dirinya dia seorang wali, yang memberi label kan kita kita sesudahnya….yang jelas mereka semuanya adalah wali Allah SWT demi syiarnya agama Allah di tanah Jawa khususnya dan Indonesia umumnya, masak sih negara juga mengarang cerita cerita sejarah yang selalu dipelajari oleh setiap anak bangsa dijenjang pendidikan nasional ini, pastilah ada tokoh tokoh agama islam dulu yang mampu memberi pencerahan kepada orang orang yang ummi tentang agama baru yaitu Islam dan mungkin karena kagumnya dengan ilmu yang dibawa mereka masing masing maka timbulah sebutan mereka masing – masing dengan label wali 9, mereka adalah ulama ulama besar besar jaman dahulu kala yang patut kita hormati dan kita muliakan hanya Allah saja yang paling tahu semuanya.

  8. sunan gunung jati al karomah Says:

    permisi..bang Ibnu Fauzy..aku pamit dulu…senang berkenalan dengan anda……?Sekalipun anda mengatakan Tenaga Dalam Bid’ah/ Sesat….kami hanya bisa tersenyum manis..mendengar ucapan anda…tidak ada niat sedikitpun di hati kami untuk membenci anda DKK….teruskan perjuangan da’wah anda…Salam perpisahan dari kami KELUARGA BESAR JAMIYYAH PERNAFASAN SENI BELADIRI SUNAN GUNUNG JATI AL KAROMAH dengan semboyan Amar ma’ruf nahi mungkar.WASSALAM.

    • ibnu fauzy Says:

      ya sama-sama mas, saya juga minta maaf jika ada kata-kata yg kurang berkenan.
      saya hanya berpesan : hendaknya setiap amalan kita selalu ada dalilnya yg shohih dengan mengikuti pemahaman generasi salaf dlm memahami dalil tsb.
      Semoga Allah Ta’ala memberikan kita petunjuk, amiin..

    • sunan gunung jati al karomah Says:

      Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam حفظه الله berkata dalam kitab “Al-Inqadz”
      Jin bisa melihat kita dan secara umum kita tidak bisa melihat mereka.
      Allah تعالى berfirman tentang Iblis dan anak turunnya,
      إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ
      “Sesungguhnya ia dan para pengikutnya melihat kalian di mana kalian tidak melihat mereka.” (Al-A’raf: 27)
      Yang dipandang oleh para pakar tafsir adalah bahwa kata ganti pada firman-Nya “Sesungguhnya dia” itu kembali kepada Iblis, dan kata “para pengikutnya” maksudnya adalah keturunan dan anak-anaknya. Syaikhul Islam رحمه الله pernah ditanya sebagaimana daam “Majmu’ Al-Fatawa” (15/7) tentang firman Allah تعالى,
      إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ
      “Sesungguhnya ia dan para pengikutnya melihat kalian di mana kalian tidak melihat mereka.” (Al-A’raf: 27)
      Apakah hal itu umum, tidak ada seorangpun yang melihat mereka, ataukah ada sebagian yang melihat mereka dan sebagian tidak?
      Maka Syaikhul Islam رحمه الله menjawab dengan berkata: “Yang ada dalam Al-Qur’an adalah bahwa mereka (jin) melihat manusia dimana manusia tidak melihat mereka, dan ini benar, mengharuskan bahwa mereka melihat manusia pada saat manusia tidak melihat mereka. Dan bukan maksudnya bahwa tiada seorangpun dari manusia yang melihat mereka, bahkan terkadang orang-orang shalih dan yang tidak shalih bisa melihat mereka, hanya saja mereka tidak melihat mereka pada setiap saat.”.

  9. sunan gunung jati al karomah Says:

    bandingkan blog-blog di atas..ngapain di perdebatkan….perbaiki aja niat masing-masing…masing-masing mempunyai dalil…yang benar hanya Allah yang Tahu…udah ya….wassalam

  10. Umat Muhammad Says:

    Ustad… jujur za ane jg spaham sm antum, tp smpai saat ini slalu timbul prtanyaan dlm dr ane, jd siapakah sosok penyebar agama islam di indonesia ini?
    klo mang ada tolong share brikut sanad yg bs di pecaya!!!

    syukron..

  11. DEWA MABOK Says:

    Menurut masyarakat, yg disebut wali adalah org2 yg berjubah dan bersorban. mempunyai bnyk karomah spt bsa terbang, menghilang dll. apakah betul yg disebut wali spt itu?


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.