WALISONGO, BENARKAH PERNAH ADA ATAU HANYA MITOS ?

Pernah dengar cerita Walisongo, baca bukunya atau penah nonton film walisongo di TV ? Benarkah Walisongo pernah hidup ataukah cuma legenda atau mitos belaka..?
Waktu kecil, penulis pernah lihat film walisongo di TV, namun belum melihat kejanggalan-kejanggalan. Sampai akhirnya terpikirkan olehku kejanggalan dalam film itu, di antaranya :
1. dalam film itu 9 wali berkumpul dalam suatu tempat membahas suatu masalah. padahal kalao kita mencari silsilah mereka, maka dapat diketahui bahwa wali A adalah anak wali B, wali B punya anak lagi wali C. bahkan ada wali yang hidup tidak sezaman (tidak pernah bertemu). namun anehnya dalam film tsb mereka seolah2 berumur sama, sudah beruban semua.
2. yang paling parah adalah kisah sunan Kalijogo, dimana dikisahkan sang sunan bersemedi dipinggir kali (sungai), berhari-hari sampai lumuten (tumbuh lumut ditubuhnya), hanya untuk diterima jadi murid wali lain. dan ada ritual peresmian menjadi wali, dengan diubur.

Keanehannya adalah : kalau benar sunan kalijogo berhari-hari semedi di pinggir kali maka dia tidak sholat, kalau buang air ga cebok dll. maka justru ini menyimpang dari ajaran Islam yag lurus. Maka cerita ini sangat perlu untuk dicari kebenarannya. Apakah benar seorang wali berbuat begitu ? ataukah ini hanya cerita dusta yang disandarkan kepada sang wali tsb ?

Orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja hukumnya kafir, ini menurut pendapat yang paling benar di antara dua pendapat ulama, yang demikian ini jika orang tersebut mengakui kewajiban tersebut. Jika ia tidak mengakui kewajiban tersebut, maka ia kafir menurut seluruh ahlul ilmi, demikian berdasarkan beberapa sabda Nabi shollallaahu’alaihi wasallam:

رَأْسُ اْلأَمْرِ اْلإِسْلاَمُ وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ

“Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad.”. Dikeluarkan oleh Imam Ahmad (5/231), at-Tirmidzi, kitab al-Iman (2616), Ibnu Majah, kitab al-Fitan (3973) dengan isnad shahih.

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ.

“Sesungguhnya (pembatas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.”[Dikeluarkan oleh Muslim dalam kitab Shahihnya, kitab al-Iman (82)]

اَلْعَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ.

“Perjanjian (pembatas) antara kita dengan mereka adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkannya berarti ia telah kafir.”[Dikeluarkan oleh Imam Ahmad (5/346) dan para penyusun kitab Sunan dengan isnad shahih, at-Tirmidzi, kitab al-Iman (2621), An-Nasa’i, kitab ash-Shalah (1/232), Ibnu Majah, kitab Iqamatus Shalah (1079)

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ. قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّيْنَ
“Apakah yang memasukkan kalian ke dalam neraka Saqar?” Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat….” (Al-Muddatstsir: 42-43)

3. cerita tentang walisongo jika diteliti tidak ada sand yang shohih. semuanya berdasarkan katanay dan konon. sehingga keaslian ceritanya sangat diragukan.

Abdullah bin Mubarak (wafat th. 181 H) berkata : “sanad ini dari agama, kalau seandaianya tidak ada sanad, maka orang akan berkata sekehendaknya apa yang ia mau“. (syarah Muslim Nawawi 1/87)

Imam Muslim meriwayatkan di dalam mukaddimah shahihnya dari Ibn Sirin rahimahullah, yang berkata, “Dulu mereka tidak pernah mempertanyakan tentang sanad, namun tatkala terjadi fitnah, mereka mengatakan, ‘Tolong sebutkan kepada kami para perawi kalian.!’ Lalu dilihatlah riwayat Ahlussunnah lantas diterima hadits mereka. Demikian pula, dilihatlah riwayat Ahli Bid’ah, lalu ditolak hadits mereka.

Entah siapa yang memulainya, yang jelas sosok para penyebar agama Islam yang baik itu tiba-tiba berubah menjadi tokoh dunia persilatan dengan beragam ilmu kedigjayaan.
Sebagai tokoh penyebar agama Islam, para da’i itu tentu sangat tidak layak untuk digambarkan bagai tokoh dagelan sakti mandraguna. Kita bukan bangga dengan penggambaran yang keliru itu, tetapi kita malah bersedih hati. Kita cenderung berpendapat bahwa rekaan-rekaan seperti ini justru merupakan pembunuhan karakter para tokoh yang sudah berjasa menyebarkan agama.

untuk itu perlu diteliti kembali keabsahan cerita walisongo, agar tidak menyesatkan umat. banyak umat yang terssat akibat kisah kurafat dan tahayul dari wali sanga, sampai-sampai banyak yang ziarah ke makam atau petilasan mereka dengan mengharap berkah dan berdo’a disana.

Sungguh ini adalah kesyirikan yang nyata

Seandainya para wali itu benar ada, bukan berarti kita memujanya…

Seandainya para wali itu benar ada, dan mereka berada diatas alhaq, niscaya mereka akan mengingkari pengkultusan terhadap mereka

Dan orang-orang yang kalian seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kalian menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu ; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh yang Maha Mengetahui”. (QS. Fathir : 13-14)

Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka.” (QS. Al-Ahqaf : 4-6)

 


85 Tanggapan ke “WALISONGO, BENARKAH PERNAH ADA ATAU HANYA MITOS ?”

  1. Usup Supriyadi Says:

    inilah sedikit yang saya ketahui tentang sejarah penyebaran Islam di pulau jawa : Penguasa Turki, Sultan Muhammad I yang memerintah dari tahun 1394 M sampai tahun 1421 M mendapat laporan dari para pedagang Timur Tengah dan Gujarat yang berdagang di kepulauan Nusantara bahwa di Jawa terdapat komunitas-komunitas Muslim, akan tetapi masih kalah jauh dalam jumlah dan pengaruhnya bila dibandingkan dengan komunitas lainnya semisal komunitas Hindu dan Budha. Didorong pemahamannya akan wajibnya menyebarkan risalah Islam kepada mereka yang belum mengenal Islam sama sekali, maka Sultan Muhammad I menggagas dan memprakarsai pengiriman tim dakwah ke pulau jawa. Disebutkan bahwa beliau meminta team yang akan dikirimkan ke Jawa tersebut yang terdiri dari orang-orang pilihan yang menguasai pemahaman agama yang memadai, memiliki keahlian irigasi, tatanegara, pertanian, dan pengobatan. Selain itu orang-orang tersebut haruslah orang-orang yang memiliki karomah karena kedekatannya kepada Allah Swt.
    .
    .
    Tim ini akhirnya terbentuk, yang terdiri dari sembilan orang yaitu : Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq, Maulana Ahmad Jumadil Kubro, Maulana Muhammad Al-Maghrabi, Maulana Malik Isra’il, Maulana Muhammad Ali Akbar, Maulana Hasanuddin, Maulana Aliyuddin, dan Syaikh Subakir. Sembilan tokoh ini kemudian yang disebut walisongo angkatan pertama. Tim ini diketuai oleh Maulana Malik Ibrahim seorang yang ahli tata negara dan irigasi dari Turki. Diberangkatkan pada tahun 1404 M, tim ini tiba di Jawa pada tahun yang sama. Seiring berjalannya waktu banyak wali yang wafat, kemudian diganti oleh wali-wali yang lainnya, sehingga sampai angkatan ke empat. Nah, betapa Sultan Muhammad I sebagai pemerakarsa pengiriman tim dakwah tersebut mempertimbangkan segalanya, dan berniat baik, tidak berupaya melakukan penaklukan yang bersifat kekerasan. Mereka para utusan itu orang-orang terpilih, dan melakukan pendekatan melalui kebudayaan pribumi sendiri dalam melakukan upaya syiar Islam. Tidak serta merta menerapkan kebudayaan atau peradaban arab? Saat pra-Islam itu disebut kebudayaan dan peradaban Arab, tapi pascaIslam, sudah menjadi kebudayaan dan peradaban Islam, tidak terbatas kepada arab atau non-arab! Mereka para utusan juga tidak semua berkebangsaan atau keturunan ras semit di semenanjung arab, ada juga yang dari Turki yang lebih dekat kepada Eropa, yang jelas-jelas dari segi geografis dan budaya dasar Turki berbeda dengan Hijaz—Mekkah dan Madinah. Saya tekankan justru bangsa Arab sebelum Islam datang, ialah sebuah bangsa yang tidak berbudaya dan berperadaban tinggi.

    jadi benar adanya. ya, itulah fenomena yang cukup keliru dimana mereka justru mengkultuskan para wali ketika mereka sudah wafat. rasanya memang tidak perlu berlebihan, kita boleh saja berziarah, mendoakan mereka, tapi bukan justru minta-minta dimakam mereka….

    semoga kita dihindari dari perbuatan-perbuatan sedemikian…

    salam kenal

  2. lutfi Says:

    ko dibilang mitos ! bkanya wali itu adalah penerus nabi. darimana anda bisa buktikan wali itu hanya mitos. lalu siapa yang menyiarkan islam di indonesia. lalu siapa yang membangun peninggalan-peninggalan yang ada di demak, gunung sembung …dll. tolong bls komentar saya ke emial saya apabila anda menemukan siapa yang mendirikan masjid demak dll… bila wali songo itu mitos

    • ibnu fauzy Says:

      benar apa yg dikatakan akhuna Djoko sableng. mas lutfi juga ga bisa buktikan klo peninggalan2 itu benar2 yang membangun wali songo (dengan bermacam cerita mistis didalamnya) kan ? jadi tidak ada sanad yang shohih ttg cerita tsb. kalau kita bercermin dg para ulama ahli hadits yang sangat teliti dan selektif dalam menyaring hadits NAbi, sehingga hadits Nabi terjaga dari pemalsuan. tidaklah mereka mengatakan hadits shohih kecuali telah memenuhi berbagai persyaratan yang sangat ketat, diantaranya perawinya harus adil, kuat hafalannya, tidak suka bermaksiat, tidak pernah berbohong dll. maka sudah saatnya kita membiasakan meniru sikap ilmiyah ulama tsb, agar selektif dalam menerima berita dan cerita, meneliti dan tidak langsung membenarkan. terutama dijawa dimana tumbuh subur cerita2 khurofat tanpa sanad yang jelas….

  3. Djoko Sableng Says:

    Yang diingkari bukanlah keberadaan para wali tersebut, tapi yang perlu dipertanyakan adalah kebenaran cerita-cerita mistik dan khurafat yang berkembang di masyarakat tentang para wali itu.

    Bagaimana Ustadz…..?

  4. zipoer7 Says:

    Salam Takzim
    Sahabat mohon maap mau ngajak ikutan Earth Hour nanti malam, ikutan yuk kesini
    Terima kasih
    Salam Takzim Batavusqu

  5. supriyanto Says:

    emang benar, wali songo ada di jaman dulu,
    kalo tidak ada siapa yang menyebar kan umat agama islam,

  6. Kenthir Says:

    lah ceritane kan hakekat……. di ambil maknane diselami…. jangan langsung ditelen….. nanti sakit perut

  7. ABHusin Says:

    Wali Songo / Wali 9 itu memang ujud, bukan mitos semata-mata. Maka keberadaannya mereka yang 9 itu memang ada sosok badan ragawinya. Mereka masing-masing ada tugas, diawal kemasukan Islam ditanah Jawa itu. Ada waktunya mereka berjumpa secara jasad, ada ketikanya mereka berjumpa secara alam spiritual.

    Maka dijaman Wali Songo / Wali 9 itu, ada seorang lagi wali dinamakan Wali 10. Maka Wali 10 itulah penjaga Gua Kahfi, dimana didalamnya tersembunyi Wali 9. Maka telah keluar Delapan Wali, maka yang tinggal hanya Satu Wali. Maka Wali 10 itu, itulah Syeikh sang penjaga mata air itu. Maka yang Satu Wali itu, itulah Sunan Kali Jogo, yang bertapa mencari jalan kebenaran dikali itu…

  8. ibnu fauzy Says:

    teman-teman, banyak yg salah faham tentang siapa wali itu. jika anda beriman dan bertaqwa, maka anda termasuk wali. untuk lebih jelas pengartian wali silahkan lihat http://ibnufauzy.wordpress.com/2010/03/06/cara-mudah-menjadi-wali/

    • andy Says:

      saya menghargai pendapat saudara.yang penting jangan berpendapat yang mengindikasikan bahwa tidak adanya wali songo.kita perlu cermat dalam mengartikan wali songo,saran saya saudara perlu memperdalam sejarah walisongo dan arti dari walisongo itu sendiri,

  9. ABHusin Says:

    KENABIAN, KERASULAN & KEWALIAN :

    Jawatan Kewalian lebeh tinggi dari Kenabian ato Kerasulan, kerana tugas Wali lebeh khusus. Maka setiap Nabi itu dia seorang Rasul, juga seorang Wali. Darjat seorang Wali itu tidak semestinya dia itu seorang Nabi ato Rasul, kerana jawatan Nabi ato Rasul udah tutop. Sebab itu kanjeng Rosul jelarannya Khatamul Nabuah – yakni Obor Penutup Kenabian. Barangsiapa ngaku dia Nabi Baru ato Rasul Baru, orang itu adalah pendusta besar kepada Nabinya dan Agamanya.

    @ Jika anda beriman dan bertakwa, maka anda termasuk Wali..?? Rasanya nggak semudah itu. Dalam dunia sekarang ini ramai orang yang beriman dan bertakwa. Makanya dunia ini agaknya koq dipenuhi jutaan para Wali…

    @ Cara mudah menjadi Wali…??? Kalo Wali dari jenis ini emang benar amat mudah. Barangsiapa ada anak-anak gadis yang akan bernikah, anda sudah pastinya akan menjadi wali…

    Jawatan Kewalian nggak bisa dituntut, kerana ianya adalah pilihan Allah. Para Wali adalah mereka itu sebagai “Wakil Allah” diberikan tugas-tugas khusus mentadbir alam semesta raya ini. Bilangan mereka itu amat terhad pada satu-satu jaman. Para Wali itu adalah para Qutub, paksi penjaga alam. Setiap Qutub itu ibaratnya beban-beban dunia tertanggong atas bahunya. Ada baiknya jadi warga biasa, kepala nggak fening….

    WALI 9 & WALI 10 DUNIA :

    Maka darjat para Wali itu juga berbeda-beda. Samada Wali itu membawa jalan Jin, maka mereka itu disebut Wali Jin. Apakah Jin kapitan mereka itu dari kalangan Jin Islam ato Jin Kapir, nggak bisa dijawab, hanya mereka itu jua yang tahu jawapannya. Maka kebanyakan alam kewalian sekarang ini adalah mereka itu dari kalangan Wali Jin, yang berupa Istidraj, tetapi disangkanya keromah. Maka jalan Istidraj itu dinamakan “Jalan Kegelapan”…

    Maka bagi mereka itu yang membawa jalan Malaikat, maka bernamalah mereka itu Wali Malaikat. Para Wali yang berdarjat Wali Malaikat tersangat sedikit bilangannya. Kebangkitan Wali Malaikat itu dirasakan bagaikan bermula diera kebangkitan Imam Mahdi AS itu. Maka jalan Wali Malaikat itu dinamakan “Jalan Cahaya”. Kebangkitan Imam Mahdi itu dikaitankan dengan era kebangkitan “The Emerging Of The 5th World”, Alam Malakut…

    Apabila datangnya itu “Cahaya” akan akan terhapuslah itu “Kegelapan”. Kerana The Al-Mehdi is “The Super Light Being”…

    Wali 9 dan Wali 10 Dunia itu adalah mereka itu dari kalangan Wali Dunia, yang bertugas dialam dunia jagat semesta raya ini. Maka Wali Songo (Wali 9) tanah Jawa itu tidak sama dengan Wali 9 Dunia itu. Wali Songo (Wali 9) itu hanya nompang pakai berkat keramah Wali 7 Ahlul Bait dialam Nusantara itu. Siapakah mereka itu Wali 7 itu…???

    Wallahu’alam….

    Sekian, bisa dibaca, tapi jangan percaya…
    Salah dan silap kami mohon diampon…

    Tamad, Wassalam….

    • ibnu fauzy Says:

      anda mengatakan banyak hal, namun tidak satupun dalil yang anda bawakan !!
      maka keterangan dari anda tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiyyah. kalo semua orang bebas ngomong agama tanpa dalil maka akan rusaklah agama ini. kayaknya anda belum membaca artikel saya dengan lengkap, terbukti anda masih belum faham apa itu wali ?. Pembagian wali spt itu tidak ada dalilnya. anda hanya membeo apa yg di ucapkan oleh Ibnu ‘arobi. Apa yang anda katakan itu adalah akidah sufi yang menyimpang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, menyimpang dari akidah ahlussunnah wal jama’ah dan telah di sesatkan oleh para ulama. Bahkan pentolannya, Ibnu ‘arobi telah dikafirkan oleh ulama.

      mengatakan ada wali-wali yang mengatur alam ini, berarti telah mengingkarai kekuasaan Allah, itu sama saja mengatakan bahwa Allah Ta’ala butuh kepada mahluk dalam mengurus alam ini, berarti mengingkari sifat Rubbubiyah Allah terutama sifat Maha pengatur. padahal orang musyrikin quraisy mengimaninya. jadi akidah sufi lebih jelek dari keyakinan musyrikin qurasy.

      para ulama mengatakan : orang-orang sufi lebih jelek daripada yahudi dan nasrani, sebab yahudi hanya berkeyakinan uzair lah yang mempunyai sifat2 ketuhanan, dan nasrani berkeyakinan hanya Yesus lah yang mempunyai sifat2 ketuhanan. Namun orang sufi mengatakan semua orang bisa menyatu dengan tuhan, bahkan mereka mengatakan tidaklah anjing dan babi melainkan itu tuhan !! sungguh ucapan yang kufur yang bisa diketahui oleh semua orang beriman, kecuali oleh orang2 yang telah tersesat dg akidah sufi.

      Ibnu ‘Arabi, berkata : “Sesungguhnya seseorang ketika menyetubuhi istrinya tidak lain (ketika itu) ia menyetubuhi Allah !” (Fushushul Hikam).
      Betapa kufurnya kata-kata ini …, tidakkah orang-orang sufi sadar akan kesesatan gembongnya ini ?!

      Ibnu ‘Arabi juga berkata: “Maka Allah memujiku dan aku pun memuji-Nya, dan Dia menyembahku dan aku pun menyembah-Nya.” (Al Futuhat Al Makkiyyah).

      Padahal Allah Ta’ala telah berfirman :
      “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat : 56).
      “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Allah Yang Maha Pemurah dalam keadaan sebagai hamba.” (Maryam: 93).

      Dia memuji Fir’aun dan menyatakan bahwa Fir’aun meninggal di atas keimanan! Dia juga mencela Nabi Harun yang mengingkari kaumnya ketika mereka menyembah patung anak sapi, yang ini jelas menyelisihi nas Al-Qur’an.

      Jalaluddin Ar Rumi, seorang tokoh sufi yang kondang berkata: “Aku seorang muslim, tapi aku juga seorang Nashrani, Brahmawi, dan Zorodoaster, bagiku tempat ibadah sama … masjid, gereja, atau tempat berhala-berhala.

      Baca selanjutnya” Fatwa Al-Imam Asy-Syafii dan Ulama Madzhab Asy-Syafiiyyah: Tingkatan pemikiran orang-orang sufi http://fatwasyafiiyah.blogspot.com/2009/10/tingkatan-pemikiran-orang-orang-sufi.html#ixzz0uBhPlBvQ

  10. raden adimas Says:

    kang-kang, yang nulis web ini……. belajarlah dri para kyai yg bener-bener kyai. jangan belajar hanya berdasarkan cerita doang. ngaji dulu yg bener biar bisa cerita yg bener.
    1. intinya tanpa adanya beliau-beliau kita ini jadi ariel, cut tari dan luna maya
    2. yg penting itu hasil akhirnya…….
    3 hasil akhirnya yg penting
    mau wali kek, mau kyai kek, yg penting kan hasil akhirnya

    • ibnu fauzy Says:

      mau belajar ? belajarlah dari sumber yang shohih, dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman para salaful ummah. Diatas bimbingan para ulama ahlussunnah. benda mati juga ada yang dipanggil kyai lo pak ??
      mengatakan : “tanpa adanya beliau-beliau kita ini jadi ariel, cut tari dan luna maya”. pernyataan ini berbahaya, karena yang menjadikan kita tidak seperti ke-3 artis tsb bukan kyai, tapi Allah ‘Azza wa Jalla !! apakah anda hendak mensejajarkan kyai dengan Rabbul ‘alamin ??
      belajar lagi mas…

  11. raden adimas Says:

    kang ABHusin saya sangat setuju dengan komentar anda.

    ibnu fauzi belajar yooooooo ben ngerti…….

    • abdullah Says:

      Saya kok malah gak setuju dengan komentar tersebut.
      Terlalu mengada-ada dan jauh dari apa yang telah disebutkan di dalam Al Quran dan Sunnah-sunnah (Hadits) Rasulullah SAW.

      Mari mas kita belajar bersama-sama lagi tentang Islam yang benar. Mengacu kepada Al Quran Kalamullah serta Sunnah sunnah Rasulullah.

  12. abdullah Says:

    @Usup Supriyadi:
    terima kasih tentang penjelasannya..bisa saya bilang penjelasannya seperti sejarahwan. Mohon maaf, bisa dituliskan referensi sejarah nya Pak.
    Kalau memang benar tujuan dari pembentukan wali 9 adalah seperti itu maka benarlah ada pergeseran keyakinan pada sebagian masyarakat indonesia. dimana wali 9 adalah wali-wali Allah dengan ilmu kanuragan yang tinggi. Padahal seperti Pak Usup bilang team wali 9 itu terdiri dari orang-orang pilihan yang menguasai pemahaman agama yang memadai, memiliki keahlian irigasi, tatanegara, pertanian, dan pengobatan. Bukan seperti yang selama ini berkembang, dengan ilmu kanuragan tinggi yang bisa semedi di sungai dalam waktu yang cukup lama.

    @lutfi dan supriyanto:
    Bangunan peninggalan seperti makam dari para beliau itu memang ada (lengkap dengan ornamen islam, seperti huruf arab). Tersebar di Pulau Jawa dan banyak dikunjungi banyak orang. Bahkan saya akui, sewaktu saya SD dan SMP pun saya termasuk dalam peziarah makam wali.
    Hanya saja permasalahannya tidak segampang itu. Jika saya bertanya,
    - benarkah beliau-beliau itu merupakan tim wali 9?
    - jika benar, apa bukti-bukti yang bisa menguatkan hal tersebut?
    - apakah benar bukti-bukti tersebut bisa dipertanggungjawabkan?

    maksud saya bisa dipertanggungjawabkan adalah seperti ini: Alquran ataupun Hadist adalah pegangan/acuan/referensi umat islam yang masih terjaga dari ulah manusia yang ingin merusaknya. jika ayat Al Quran palsu maka para ulama yang hafidz (hapal Al Quran) tentu akan segera mengetahuinya. Jika tersebar sebuah hadist palsu, maka para ulama tentu akan segera mengerti bahwa hadist itu palsu dengan cara menelusuri para perawi hadist nya.

    @Kenthir:
    Kalo langsung diselami, bisa-bisa saya terbawa arus. Arus kesyirikan. Ngalap berkah. Ngalap berkah kepada siapa? kalau minta berkah Allah kenapa tidak sholat qiyamul lail tiap malam. kenapa tidak memperbanyak puasa di hari-hari yang dianjurkan. kenapa tidak menghidupkan sholat berjamaah. Bukan menghabiskan waktu berhari-hari (ngalap berkah) di kuburan.
    Saya semenjak kecil sudah menyelami hal-hal ini (ziarah wali 9). Alhamdulillah Allah menghendaki saya untuk menjauhi perbuatan-perbuatan itu. Sungguh, Demi Allah, saya tak ingin kembali ke masa itu. karena jelas Rasulullah telah melarang untuk beribadah di kuburan. beberapa hadist yang bisa saya cantumkan di sini

    “Janganlah kalian shalat menghadap kuburan, dan janganlah duduk di atasnya”. [HR Muslim]
    “Semoga laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah (masjid)”. [HR Bukhari & Muslim]
    “Mereka itu, apabila ada orang yang shalih -atau hamba yang shalih- meninggal di antara mereka- mereka bangun di atas kuburnya sebuah tempat ibadah, dan mereka buat di dalam tempat itu gambar-gambar mereka; mereka itulah makhluk yang paling buruk di hadapan Allah. [HR bukhari & Muslim]

    @AB Husin:
    beberapa tulisan nyeleneh anda (saya copy paste kemudian saya tanggapi) :
    - “Ada waktunya mereka berjumpa secara jasad, ada ketikanya mereka berjumpa secara alam spiritual.”
    Mari kita renungkan pernyataan ini baik-baik mas. Sahabat-sahabat Rasulullah SAW yang tingkat kesalihannya masih sedikit di bawah Rasulullah SAW (Ali RA, Umar RA, Abu Bakar RA, dll) tak pernah ada riwayat yang menyatakan mengadakan pertemuan secara alam spiritual untuk membahas masalah umat. Lalu bagaimana dengan para wali yang mungkin sudah tidak pernah belajar langsung dari Rasulullah SAW?

    - “Jawatan Kewalian lebeh tinggi dari Kenabian ato Kerasulan, kerana tugas Wali lebeh khusus.”
    Maaf mas, ini dasar hukumnya apa? Sepertinya kok sudah melenceng terlalu jauh dari ajaran islam yangbenar. Rasul adalah manusia yang paling sempurna yang Allah SWT turunkan di dunia ini. Bagaimana mungkin kewalian derajatnya bisa lebih tinggi dari Rasul. Bahkan Rasul, dengan seijin Allah, bisa memberikan syafaat bagi umatnya. apakah wali bisa memberikan syafaat bagi kita????

    untuk menguatkan bahwa Rasul bisa memberi syafaat dengan ijin Allah, dalil dari al Quran adalah sebagai berikut
    “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhlukNya); tidak mengantuk dan tidak tidur. KepunyaanNya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izinNya…” [al Baqarah : 255].
    “…Tidak seorangpun yang memberikan syafa’at, kecuali sesudah ada izinNya…”[Yunus : 3].
    “…Tidak ada bagi kamu selain daripadaNya seorang penolongpun, dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” [as Sajdah : 4].
    “Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya”. [Thaha : 109].

    Dan Hadist yang menguatkan salah satunya adalah:

    مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

    “Barangsiapa yang membaca ketika mendengar adzan ‘Ya Allah, Rabb pemilik panggilan yang sempurna ini dan shalat (wajib) yang didirikan. Berilah al wasilah (derajat di surga), dan keutamaan kepada Muhammad n , dan bangkitkan beliau, sehingga bisa menempati maqam terpuji yang engkau janjikan’. Maka dia berhak mendapatkan syafa’atku pada hari Kiamat”. [HR Bukhari no.614, dari Jabir bin Abdillah]

    Sangat banyak komentar anda yang bagi saya ini sudah sangat nyeleneh dan melenceng dari garis Islam yang telah diajarkan Rasulullah. Semoga 2 komentar balasan saya bisa membuat kita semakin mendekatkan diri kepada Allah.

    @Raden Adimas:
    saya kutip dari komentar anda
    - “belajarlah dari para kyai yg bener-bener kyai”
    Maaf mas, kriteria Kyai yang bener-bener kyai menurut anda itu yang bagaimana? Karena banyak saya jumpai kyai yang tidak paham betul tentang isi Al Quran dan tidak paham benar tentang sunnah sunnah Rasulullah. Dan Ulama-ulama yang saya tahu dia paham akan AlQuran dan Sunnah Rasulullah Muhammad SAW malah mengajak untuk menjauhi perbuatan syirik. Termasuk seperti beribadah di kuburan.

    - “jangan belajar hanya berdasarkan cerita doang”
    saya pernah lihat makam-makam sunan, karena semasa kecil saya beberapa kali ziarah ke makam wali. tapi bahwa mereka adalah satu tim yang disebut wali 9 hanya sekedar omong doang tanpa bukti mas. cerita dari jaman kakeknya kakek mungkin. saya kurang paham. Apakah sampeyan, Raden Adimas, bisa membuktikan bahwa mereka adalah wali 9. Siapa tahu mereka cuma Ulama-ulama yang hidup di masanya. Kemudian cerita yang berkembang melenceng sangat jauh dari awalnya. Karena sejarah mereka belum saya temui tertulis dengan jelas, bahwa mereka membentuk kelompok khusus yang bernama wali 9. jikalau ada, akan sangat membantu dalam pembelajaran saya yang masih jauh dari sempurna ini.

    - “intinya tanpa adanya beliau-beliau kita ini jadi ariel, cut tari dan luna maya”
    Tapi mas, tetap ada ariel, cut tari dan luna maya. walaupun menurut keyakinan mas kita ini terselamat kan oleh wali 9. tapi mengapa ariel, cut tari dan luna maya kok gak selamat mas? apa bedanya mereka dengan kita? sebenarnya jika kita mengetahui akar permasalahannya maka jelas pernyataan anda ini salah. jika seseorang melakukan maksiat adalah karena mereka terlalu menuruti hawa nafsu mereka. mereka kalah akan godaan-godaan syaitan yang menggunakan nafsu sebagai senjata utama. tidak ada hubungannya sama sekali dengan wali 9.

    - “2. yg penting itu hasil akhirnya…….
    3 hasil akhirnya yg penting
    mau wali kek, mau kyai kek, yg penting kan hasil akhirnya”
    Alhamdulillah mas, sekarang saya gak pernah lagi ke makam wali setelah tahu menurut ajaran islam kita tidak boleh beribadah di kuburan. Kemudian jika hasil akhirnya yang menjadi orientasi nya, maka perumpamaannya seperti ini: Robin Hood melakukan pencurian untuk bersedekah kepada orang-prang fakir. (Kalau tidak salah ini juga salah satu kisah Sunan Kalijogo, mencuri untuk membantu kaum fakir miskin). Apakah hal seperti ini bisa dibenarkan?
    Sesuai hukum islam mencuri jelas salah satu perbuatan yang dilarang.
    Begitu juga pengagungan yang berlebihan terhadap seseorang, benda (jimat) atau hal yang lain. Jelas ini merupakan perbuatan yang dilarang karena syirik. Seseorang ketika beribadah dengan cara yang seperti ini, seolah-olah seseorang itu sudah dekat dengan Allah. Tapi sebenarnya kita hanya mendekati neraka Nya. Percayalah bahwa saya sudah merasakan hal seperti ini. Tapi, Alhamdulillah, sekali lagi Alhamdulillah, akhirnya Allah menghendaki saya menjauhi perbuatan ini. Saya dijauhkan dari perbuatan-perbuatan syirik. Yang salah satunya beribadah di kubur para wali, menghormati para seseorang secara berlebihan hingga harus berdoa di makamnya.

    Semoga Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang memberikan petunjuk Nya bagi kita semua

  13. Wong Edan Says:

    Kita tidak perlu membahas ada atau tidaknya walisongo, tapi kita sebagai bangsa Indonesia wajib berterima kasih kepada beliau-beliau yang telah berjuang mengIslamkan kita bangsa ini. Untuk masalah Sunan Kalijaga tidak perlu kita perdebatkan karena masalah benar atau salahnya seseorang kita tidak bisa menghakimi, kita tunggu kelak diakherat siapa yang benar atau salah sebab yang paling benar adalah Allah SWT. Selama tuhan mereka Allah SWT dan mengaku Islam maka mereka termasuk saudara kita. Al Muslim akhul muslim.
    Lana a’maa luna wa lakum a’maa lukum. Mari kita hindari perdebatan yang tidak ada ujungnya, mari ber fastabiqul khoirot menuju jalan Allah dan RosulNya dan stop membid’ahkan orang lain.

    • ibnu fauzy Says:

      wong edan, anda benar, yang paling benar hanya Allah Ta’ala, dan Allah telah memberi timbangan benar dan salah yaitu dengan diutusnya Nabi Muhammad salallahu ‘alaihi wassalam yang membawa AlQur’an dan As-sunnah. itulah timbangan kebenaran disisi Allah Ta’ala. maka siapa saja tidak boleh menghakimi sendiri kecuali dengan timbangan dari Tuhan semesta alam. Maka siapa saja yang menyimpang dari 2 timbangan tsb, maka dia menyimpang dari kebenaran.

      kalau memang saudara maka merupakan hak dan kewajiban untuk saling menasihati. jadi ini bukan debat tapi nasihat amar ma’ruf nahi mungkar.

      bukan kita membd’ahkan, namun orang2 yang berbuat bid’ah itu perlu di ingatkan. dan Nabi saja sangat keras dalam mengingatkan bahaya bid’ah, begitu pula para sahabat nabi dan para ulama. mungkin wong edan perlu membaca hadits2 seputar masalah bid’ah sehingga paham bahwa nabi yang pertama mengingatkan bahaya bid’ah.

      barokallohu fiikum

      • anto Says:

        sebagai sesama muslim kita memang harus salig menhormati perbedaan.Kebenaran hanyalah milik Alloh semata.Masalah bid’ah memamg jdi persoalan kita semua.Tapi kita jangan membabi buta men cap oarang yang berbeda dengan kita sebagai ahli bid’ah.Karena yang berbeda dengan kita juga memakai dasar yang mereka pahami dan semua bersumber dari kitab sucu dan hadis.Yang penting bagi kita adalah koreksi dan bertanya pada diri sendiri….,……….apakah yang saya lakukan sudah benar? atau justru yang saya kakukan sejatinya adalah kesalahan…..

  14. perang salib Says:

    afwan, nggak sabar mau komen … hehe..
    sebelumnya salam taaruf dulu, saya warga indonesia. ya iya lah..
    langsung aja ikhwanul muslimin rohimakumullah,
    memang cerita cerita mistis di pulau jawa tidak bisa dibuktikan,
    karena jaman dulu tidak ada video atau kamera… yaiyalah…
    nah, saya juga kurang percaya dg kesaktian kesaktian dalam buku2 cerita walisongo..
    kenapa gak percaya? soalnya banyak kejanggalan.
    lha wong para nabi aja yang dikasih mukjizat tidak diberi kesaktian seperti walisongo kok,
    contohnya bisa terbang, bisa jalan diatas air,
    dan lain2.
    kalau cuma menghadapi kekuatan orang jawa kan mudah,
    bacakan ayat kursi, ntar jin jin jahat yang membantu sihir musuh walisongo kan kabur!
    soalnya kesaktian orang jawa kan cuma sihir! makar! iya nggak?
    waallahu a’lamu bis showab…

    • ibnu fauzy Says:

      so, dakwah yang utama dan pertama adalah mendakwahkan tauhid, menjelaskan kpd umat ttg kesyirikan dan bahayanya yg sudah banyak mendarah daging dinegeri ini. namun sayang, banyak kelompok dakwah menjadikan selain tauhid menjadi tujuan dakwahnya seperti : kekuasaan, akhlaq, khilafah dll.
      barokallohu fiikum..

  15. Belanda Depok Says:

    Saya rasa Wali songo benar2 ada, bukan mitos.. karena banyak sumber sejarah yang mencatat keberadaan dan aktifitas mereka dalam menyebarkan islam di tanah jawa (sumber sejarah tsb bukan hanya dari indonesia, tapi juga dari luar seperti turki). Bukti keberadaan walisongo juga bisa ditelusuri dengan peninggalan2 sejarah.

    Tapi.. ketika bicara mengenai ‘kesaktian-kesaktian’ para wali.. mungkin inilah yang bisa dikatakan mitos, walaupun engga menutup kemungkinan para wali Allah diberikan karomah, tapi memang kisah walisongo versi babad tanah jawi memang kelewat lebay. seperti gambaran film walisongo,, Walah.. apalagi film!! lebih lebay, lebih menonjolkan entertain daripada edukasi.

    Tapi saya setuju dengan Anda, Seandainya para wali itu benar ada, bukan berarti kita harus memujanya secara berlebihan, apalagi sampai mengkultuskan…

  16. Pecinta AhlulBait Says:

    wakakaka…wahabiyyunn….untung ente masih ngakui nabi SAW kalau enggak entar gue sikat loe…sudah ente enggak tau dunia wali pakai komentar pakai Al-Qur’an dan Hadits.wakaka…anak kecil anak kecil nilai sarjana tau enggak maksudnya ini….

  17. ibnu fauzy Says:

    bagi yang berakidah bahwa wali ikut andil dalam mengatur alam ini, silahkan perhatikan firman Allah QS As-Saba’ ayat : 22-23 (artinya ) :

    “Katakanlah (Muhammad), ‘Serulah mereka yang kalian anggap (sebagai sesembahan) selain Allah! Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat dzarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka sama sekali tidak mempunyai suatu saham (peran) pun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. Dan tidaklah berguna syafa’at di sisi Allah, melainkan bagi orang yang telah diizinkan oleh-Nya (memperoleh syafa’at)…”

    masihkah adakah yang berani membantah perkataan Tuhan Yang Maha Kuasa ?

  18. HAMBA ALLAH Says:

    Sbelum kita membahas wali 9,seharusnya kita tau makna wali 9 tersebut, pengetahuan sy wali yg dimaksudkan disinikan UTUSAN, Kalopun itu bukan UTUSAN ,mungkin mereka itu pendatang dari luar yg dengan berdagang juga menyebarkan agama islam, sejarah mencatat dari tokoh 9 yg dianggap utusan itu nasabnya tercatat di kantor pencatatan nasab keturunan ahlulbaiyt,dan juga tercatat di silsilah kerajaan nusantara karena mereka berdakwah dgn cara masuk ke istana dan menikah dgn anak raja-raja nusantara, sbenarnya tidak terbatas hanya 9 tokoh itu saja penyebar agama islam dinusantara, kesimpulanya kalopun mereka bukan UTUSAN ,mereka itu mungkin para pendatang yg ingin menyebarkan agama ISLAM dinusantara, wallahualam..

    • ibnu fauzy Says:

      sebelumnya terimakasih kpd hamba Allah yang sudah mampir.
      “kantor pencatatan nasab keturunan ahlulbaiyt” dimanakah itu ?
      semuanya kembali kpd kata-kata “mungkin saja…” karena memang cerita ttg wali 9 itu tidak jelas sanadnya.

  19. BukanHambaDUNIA Says:

    Yang pasti mereka adalah orang suku arab yang ingin menyebarkan agama islam dinusantara jadi bukan hanya kemungkinan dan katanya saja tapi pasti, kalau istilah yg mereka pakai dengan nama walisongo itu sy juga tidak tau asalnya ,orang pribumikan biasa kalau ada orang sholeh mereka berlebihan dalam menyebutnya/ghulu/ekstrim, Alamat ada diwisma yakyf mampang prapatan jakarta selatan Tlp. kantor 02179195156 ,Kalau ingin keterangan lebih detail bisa ditanyakan ..

  20. Hamba bani adam Says:

    Itu keterangan dari siapa kok anda bisa tau malik ibrahim ?, Kalau ingin lebih detail silahkan anda menghubungi telp diatas, jangan cuma referensi dari buku atau google saja, karena dikedua sumber itu tidak valid dan banyak penyimpangan sejarah sperti yg ada di film yg ditayangkan di tv… ,wasalamualaikum… ,saya rasa sudah cukup pembahasanya, tinggal menghubungi no. diatas bereskan jadi biar tidak ada praduga yg buruk, dan salah menyebutkan siapa mereka, nanti kalau ada komentar dari orang yg tak berilmu tentang pembahasan ini malah menjadi syubat yg tak kunjung habisnya,karena ini adalah pembahasan yg sensitif yg menyinggung nasab-nasab orang arab yg masih tersambung dengan mereka
    wallahualam.

  21. Hadi Says:

    Wali 9 jelas ada… Kalo qt ndak tau sanad nya bukan berarti tidak ada sanadnya, mgkin orang lain ada yg tau.. masalah karomah para wali tergantung orangnya, mau percaya silahkan, ndak percaya jg ndak ada yg maksa.. Ziarah kuburnya jg ndak jd masalah, bukankah rosulullah SAW memerintahkan umatnya begitu agar ingat mati… Kalo berdo’a di makamnya jg ndak masalah asal memintanya tetep kepada Allah SWT para wali hanya sebagai wasilah aja…

    • ibnu fauzy Says:

      Saudaraku Hadi,
      ketahilah, menjadikan arang yang telah meninggal sebagai perantara antara dirinya dg Allah Ta’ala adalah pokok dari kesyirikan yang Nabi diutus untuk memberantas hal tsb. Musyrikin Qurasy, mereka menjadikan latta, uzza dan manat sebagai perantara antara mereka dengan Allah Ta’ala. Namun Musyrikin Qurays berkilah jika dikatakan menyembah latta, uzza dan manat. Mereka beralasan ketiganya hanya dijadikan WASILAH antara mereka dg Allah Ta’ala. perkataan mereka diabadikan dalam Al-Qur’an (Az-Zumar:3)
      مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

      “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.”
      Maka janganlah kita meniru tindakan mereka yg jelas-jelas dilarang dalam Islam.
      Apalagi dalam praktiknya, mereka yg datang ke makam para wali, justru berdo’a, ngalap berkah kpd kubur tsb.
      Wallahu a’lam.

      • satrio ilang Says:

        kok nggak disebutkan dalil ttg menggunakan roh org meninggal sebagai perantara yg tanpa menyembah roh tersebut?? yg disebutkan kok dalil yg jelas2 menyembah berhala?? apa nggak ada dalil yg jelas2 menyebutkan ttg menjadikan orang yang telah meninggal sebagai perantara antara dirinya dg Allah Ta’ala adalah pokok dari kesyirikan??

      • ibnu fauzy Says:

        maksud anda apa? jika maksud anda adalah ritual menghadiran roh, maka kita katakan : siapa yang bisa menjamin bahwa yang datang itu rohnya si fulan, bisa jadi itu syaitan !

    • Lagi belajar aja Says:

      Tawassul adalah mengambil sarana/wasilah agar do’a atau ibadahnya dapat lebih diterima dan dikabulkan. Al-wasilah menurut bahasa berarti segala hal yang dapat menyampaikan dan mendekatkan kepada sesuatu. Bentuk jamaknya adalah wasaa-il (An-Nihayah fil Gharibil Hadiit wal Atsar :v/185 Ibnul Atsir). Sedang menurut istilah syari’at, al-wasilah yang diperintahkan dalam al-Qur’an adalah segala hal yang dapat mendekatkan seseorang kepada Allah Ta’ala, yaitu berupa amal ketaatan yang disyariatkan. (Tafsir Ath-Thabari IV/567 dan Tafsir Ibnu Katsir III/103)

      “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diti kepadaNya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.” (Qs.Al-Maidah:35)

      Mengenai ayat diatas Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu berkata,”Makna wasilah dalam ayat tersebut adalah al-qurbah (peribadatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah).”

      Demikian pula yang diriwayatkan dari Mujahid, Ibnu Wa’il, al-Hasan, ‘Abdullah bin Katsir, as-Suddi, Ibnu Zaid, dan yang lainnya. Qatadah berkata tentang makna ayat tersebut,”Mendekatlah kepada Allah dengan mentaati-Nya dan mengerjakan amalan yang di ridhoi-Nya.” (Tafsir Ibnu Jarir ath-Thabari IV/567 dan Tafsir Ibnu Katsir III/103).

      Adapun tawassul (mendekatkan diri kepada Allah dengan cara tertentu) ada tiga macam: tawassul sunnah, tawassul bid’ah, dan tawassul syirik.

      Tawassul Sunnah

      Pertama: Bertawassul dengan menyebut asma’ul husna yang sesuai dengan hajatnya ketika berdo’a. Allah Ta’ala berfirman,

      “Hanya milik Allah-lah asma’ul husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asma’ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam menyebut nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjaan.” (Qs.Al-A’raf:180)

      Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda dalam do’anya,

      “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan seluruh nama-Mu, yang Engkau menamakan diriMu dengan nama-nama tersebut, atau yang telah Engkau ajarkan kepada salah seorang hambaMu, atau yang telah Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang masih tersimpan di sisi-Mu.” (HR.Ahmad :3712)

      Kedua: Bertawassul dengan sifat-sifat Allah Ta’ala. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda dalam do’anya,

      “Wahai Dzat Yag Maha Hidup lagi Maha Berdiri sendiri, hanyadengan RahmatMu lah aku ber istighatsah, luruskanlah seluruh urusanku, dan janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walaupun sekejap mata.” (HR. An-Nasa’i, Al-Bazzar dan Al-Hakim)

      Ketiga: Bertawassul dengan amal shalih

      Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab shahih muslim, sebuah riwayat yang mengisahkan tentang tiga orang yang terperangkap dalam gua. Lalu masing-masing bertawassul dengan amal shalih mereka. Orang pertama bertawassul dengan amal shalihnya berupa memelihara hak buruh. Orang ke dua bertawassul dengan baktinya kepada kedua orang tuanya. Sedangkan orang ke tiga bertawassul dengan takutnya kepada Allah Ta’ala, sehingga menggagalkan perbuatan keji yang hendak dia lakukan. Akhirnya Allah Ta’ala membukakan pintu gua itu dari batu besar yang menghaanginya, hingga mereka bertiga pun akhirnya selamat. (HR.Muslim 7125)

      Keempat: Bertawassul dengan meminta doanya orang shalih yang masih hidup. Dalam sebuah hadits diceritakan bahwa ada seorang buta yang datang menemui Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

      Orang itu berkata, “Wahai Rasulullah, berdo’alah kepada Allah agar menyembuhkanku (sehingga aku bisa melihat kembali).”

      Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menjawab, “Jika Engkau menghendaki aku akan berdoa untukmu. Dan jika engkau menghendaki, bersabar itu lebih baik bagimu.”

      Orang tersebut tetap berkata,”Do’akanlah.”

      Lalu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menyuruhnya berwudhu secara sempurna lalu shalat dua raka’at, selanjutnya beliau menyuruhnya berdoa dengan mengatakan,

      “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan aku menghadap kepada-Mu bersama dengan nabi-Mu, Muhammad, seorang nabi yang membawa rahmat. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku menghadap bersamamu kepada Tuhanku dalam hajatku ini, agar Dia memenuhi untukku. Ya Allah jadikanlah ia pelengkap bagi (doa)ku, dan jadikanlah aku pelengkap bagi (doa)nya.” Ia (perawi hadits) berkata,”Laki-laki itu kemudian melakukannya, sehingga dia sembuh.” (HR.Ahmad dan Tirmidzi)

      Kelima: Bertawassul dengan keimanannya kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,
      رَّبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِياً يُنَادِي لِلإِيمَانِ أَنْ آمِنُواْ بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ

      “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu),’Berimanlah kamu kepada Tuhanmu’. Maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti.” (Qs.Ali-Imran:193)

      Keenam: Bertawassul dengan ketauhidannya kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,

      وَذَا النُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَاضِباً فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنجِي الْمُؤْمِنِينَ

      “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa kami tidak akan mempersemptnya (menyulitkannya). Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap,’bahwa tidak ada sesembahan (yang berhak disebah) selain Engkau, maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.’ Maka Kami telah memperkenankan do’anya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikian Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (Qs.Al-Anbiya:87-88)

      ***

      Tawassul Bid’ah

      Pertama: Tawassul dengan kedudukan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam atau kedudukan orang selain beliau.

      Dalam shahih Bukhari terdapat hadits, “Dari Anas bin Malik, bahwasannya Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu jika terjadi kekeringan, maka beliau berdo’a agar diturunkan hujan dengan bertawassul melalui perantaraan (do’a) Al-‘Abbas bin Abdul Muthallib. Umar berkata,’Ya Allah dahulu kami bertawassul dengan nabi kami hingga Engkau menurunkan hujan kepada Kami. Dan sekarang kami bertawassul dengan paman nabi kami, maka turunkanlah hujan kepada kami’. Kemudian turunlah hujan.” (HR.Bukhari: 1010)

      Maksud bertawassul dengan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bukanlah “Bertawassul dengan menyebut nama Nabi shallallahu’alaihi wa sallam atau dengan kedudukannya sebagaimana persangkaan sebagian orang. Akan tetapi maksudnya adalah bertawassul dengan do’a Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Oleh karena itu ketika Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah wafat, para sahabat tidak bertawassul dengan nama atau keddukan Nabi, akan tetapi bertawassul dengan doa paman Nabi shallallahu’alaihi wa sallam –yaitu ‘Abbas- yang saat itu masih hidup.

      Kedua: Bertawassul dengan cara menyebutkan nama atau kemuliaan orang shalih ketika berdo’a kepada Allah Ta’ala.

      Ini adalah bid’ah bahkan perantara menuju kesyirikan. Contoh,”Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan kemuliaan Syaikh Abdul Qadir Jailani, ampunilah aku.”

      Ketiga: Bertawassul dengan cara beribadah kepada Allah Ta’ala di sisi kubur orang shalih. Ini merupakan bid’ah yang diada-adakan, dan bahkan merupakan perantara menuju kesyirikan.

      ***

      Tawassul Syirik

      Tawassul yang syirik adalah menjadikan orang yang sudah meninggal sebagai perantara dalam beribadah seperti berdoa kepada mereka, meminta hajat, atau memohon pertolongan kepada mereka. Contoh,”Ya Sayyid Al-Badawi, mohonlah kepada Allah untuk kami”.

      Perbuatan ini merupakan syirik akbar dan dosa besar yang paling besar, meskipun mereka menamakannya dengan “tawassul”. Hukum syirik ini dilihat dari hakikatnya yaitu berdo’a kepada selain Allah.

      Penulis: Ummu Yusuf Nur Indah Sari
      Muroja’ah: Abu Rumaysho Muhammad Abduh Tuasikal

      Maraji’:
      Prinsip-Prinsip Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, Yazid bin Abdul Qadir Jawas.
      Mutiara Faedah Kitab Tauhid, Abu Isa Abdullah bin Salam.
      Khudz ‘Aqidataka minal Kitabi wa Sunnatis Shahihi, Muhammad bin Jamil Zainu.
      Buletin At-Tauhid, Jogjakarta.

      ***

      Artikel muslimah.or.id

  22. satrio ilang Says:

    Tulisan ini terlalu banyak dzon (wasangka2). Tidak mengungkap keadaan sebenarnya sedikit pun. Bagus juga untuk menjadi bantahan, tp tidak bisa membantah dg bukti juga.. dalam alQur’an dikatakan “Inna dzonna laa yughni minal haqqi syaian” sesungguhnya dzon itu tidak memenuhi kebenaran sedikit pun..
    dalm istilah ilmiah, itu baru dalam tingkatan hipotesa..
    ada baiknya penulis mengalami sendiri ttg apa yg dituliskannya, sehingga penelitiannya lebih obyektif. hipotesa jangan dianggap sebagai kesimpulan..
    Bicara ttg tenaga dalam, tp tidak memiliki tenaga dalam, bicara ttg ilmu ghaib tanpa memiliki dan mengalami ilmu ghaib, bicara ttg makhluk ghaib tanpa pernah melihat makhluk ghaib, bicara ttg metafisika tanpa mendalami metafisika.. bagaimana bisa disebut ilmiah..
    Bicara tanpa ilmu akan menyesatkan banyak orang.. pandangan boleh berbeda, tp pendalaman ilmu adalah kewajiban..
    bagi para aktifis metafisika, mereka tahu aliran2 yg berbeda, sehingga bisa membedakan mana dukun, mana kyai.. bukan hanya dalam bentuk statement umum, tp mengerti detail2nya..
    org yg mendalami ilmu dhahir akan menganggap ilmu bathin cenderung pada musyrik, sebaliknya org yang sibuk dg ilmu bathin akan memandang aktivis ilmu dhahir cenderung kafir (sulit percaya pada yang ghaib).
    sebaiknya meneliti ajinomoto terlebih dahulu, sebelum menyatakan bahwa produk itu haram atau halal. itu baru namanya obyektif. itu baru namanya ilmiah..
    Kita sering berlaku tidak adil menempatkan hal yg bersifat lahir dan yg bersifat bathin.. kita mempercayai obat2an dari dokter memiliki daya penyembuh, tp kita menganggap air yg dikasih wirid atau doa sebagai musyrik, tidak rasional dan tidak ilmiah.. padahal sebenarnya keduanya sama2 alat atau perantara saja, bukan penyembuh sebenarnya karena sang penyembuh adalah Alloh SWT. egoisme dan rasa takaburlah yg menjadikan ketidakadilan itu terjadi.
    demikian pula sebaliknya..
    memang ada juga para dukun yg sesat, tp ada juga dukun yg tidak sesat seperti dukun pijat, karena dalam bahasa jawa kata dukun tidak mesti peramal. dukun bermakna luas. nyaris semua pengobatan tradisional dikatakan sebagai dukun. kita juga harus bisa memilah..
    dan perlu diketahui bahwa artikel di atas bukan SEJARAH ataupun SEJARAH SINGKAT..
    wallohu a’lam

    • ibnu fauzy Says:

      Saudaraku satrio ilang :
      1. Apakah jika kita ingin menghukumi santet harus bisa santet dan mempraktekkannnya dulu ? apakah jika kita ingin menghukumi korupsi harus jadi koruptor dulu ? tentu semua orang akan bilang TIDAK ! Jika hal itu dilakukan maka dia menceburkan diri kedalam kebinasaan. kita bisa menghukumi santet dari keterangan-keterangan valid yang didapat baik dari pelaku santet maupun korban, jika semua ciri-cirinya mengarah kpd sihir maka itu haram. begitu juga korupsi. Tentang tenaga dalam dan metafisik, dukun dsb maka kita tidak perlu harus jadi dukun, mempelajari tenaga dalam/metafisik yg malah akan menjerumuskan kita. cukuplah data-data yg ada baik dari pengakuan praktisi maupun kenyataan yg ada. (meskipun dalam hal ini saya pernah khilaf mencicipi Tenaga dalam/metafisik, semoga Allah Ta’ala mengampuniku.)

      2. Perlu diluruskan apa itu ilmu dan apa itu ilmiyyah ?
      Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah menyatakan:

      “ilmu ialah memindahkan gambaran yang diketahui dari kenyataan alam luar kemudian ditetapkannya (dimasukkan hingga tetap) ke dalam diri, sedangkan amal adalah memindahkan (mewujudkan) gambaran ilmiah dari arah dalam diri, kemudian dituangkan dalam alam nyata.

      Jika membicarakan masalah Dien (agama) maka ilmu yang dimaksud adalah tentu saja ilmu agama (ilmu syar’i). Adapun ilmu yang kita maksud adalah ilmu syar’i, yaitu ilmu yang diturunkan oleh Allah Ta’ala kepada Rasul-Nya berupa keterangan dan petunjuk yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.
      Maka Al-Qur’an dan As-Sunnah berisi ilmu yang tidak syak lagi, tidak ada keraguan didalamnya, karena keduanya berasal dari wahyu. Meragukan keduanya adalah kekufuran. maka apa yang dijelaskan oleh keduanya adalah kebenaran, bahkan keduanya menjadi timbangan benar atau salah segala sesuatu. maka apabila kita menghukumi sesuatu dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah maka itu adalah metode ilmiyyah karena ke-duanya adalah sumber ilmu dan timbangan kebenaran.

      perhatikan ayat berikut :
      jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa`: 59)

      “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka persilisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan , dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (An-Nisa : 65).

      INILAH METODE ILMIYYAH YG DI AJARKAN ALLAH TA’ALA DAN RASUL-NYA, YAITU MENIMBANG SEGALA SESUATU DENGAN AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH.
      bukan ilmiyah menurut kita..

      barokallohu fiikum.

  23. hamba Allah Says:

    kalo masalah keajaiban si jangan di masukin akal sehat massss………. tar pusing lagi

  24. hendraKalimantan Says:

    assalamualaikum,
    mohon penjelasan; 1.katakan yg baik dari Allah, yg buruk dari dirimu, 2.tiada daya upaya kecuali kuasa Allah, 3.bukan engkau M yg melempar tetapi Aku. 4.Allah Maha Bathin tapi juga maha Dzahir. 5.sujudlah kau iblis kepada Adam. 6.Allah lebih dekat dari urat leher.
    Secara kasat mata saling bertentangan ya?

  25. hendraKalimantan Says:

    assalamualaikum,
    mohon penjelasan; 1.katakan yg baik dari Allah, yg buruk dari dirimu, 2.tiada daya upaya kecuali kuasa Allah, 3.bukan engkau M yg melempar tetapi Aku. 4.Allah Maha Bathin tapi juga maha Dzahir. 5.sujudlah kau iblis kepada Adam. 6.Allah lebih dekat dari urat leher.
    Secara kasat mata saling bertentangan ya? Padahal mau merujuk ke Kur’an yang arab indonya al-Qur’an atau nanti jadi Al-Qur’an.
    Salallahu ala Muhammad

    • ibnu fauzy Says:

      Waalaikum salam..
      sebelumnya maaf, knp anda mempertanyakan sesuatu yg tidak jelas ? maksudnya apa yang anda kutip untuk ditanyakan seharusnya anda jelaskan dapat dari mana, itu perkataan siapa, kalau memang itu ayat, tolong jelaskan itu surat apa ayat berapa ? jadi kan enak, masak saya harus menjelaskan pernyataanmu sendiri..
      baiklah mungkin yang anda maksud begini :

      1. Tidak boleh kita menisbatkan kejelekan kepada Allah.
      Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatanmu sendiri. (Asy-Syura: 30)
      Dalam hal ini kita perlu memahami antara takdir yang merupakan perbuatan Allah dan dampak/hasil dari perbuatan tersebut. Jika takdir disifati buruk, maka yang dimaksud adalah buruknnya sesuatu yang ditakdirkan tersebut, bukan takdir yang merupakan perbuatan Allah, karena tidak ada satu pun perbuatan Allah yang buruk. Seluruh perbuatan Allah mengandung kebaikan dan hikmah. Jadi keburukan yang dimaksud ditinjau dari sesuatu yang ditakdirkan/hasil perbuatan, bukan ditinjau dari perbuatan Allah.

      2. Tiada daya upaya kecuali atas kehendak Allah. ini adalah bantahan untuk orang2 qodariyah yang mengingkari takdir. mereka berkeyakinan bahwa semuanya atas kehendak manusia, mereka menafikan kehendak Allah.
      Ahlussunnah adalah pertengahan antara qodariyah dan jabbariyyah, yaitu bahwa manusia memiliki kehendak dan kemampuan, yang dengannnya dia melakukan atau meninggalkan sesuatu. Ia juga bisa membedakan antara sesuatu yang terjadi dengan kehendaknya (seperti berjalan), dengan sesuatu yang terjadi tanpa kehendaknya, (seperti gemetar atau bernapas). Namun, kehendak maupun kemampuan makhluk itu terjadi dengan kehendak dan kemampuan Allah Ta’la karena Allah berfirman,

      لِمَن شَآءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ {28} وَمَاتَشَآءُونَ إِلآَّ أَن يَشَآءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ {29}

      “(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At Takwiir:28-29). Dan karena semuanya adalah milik Allah maka tidak ada satu pun dari milik-Nya itu yang tidak diketahui dan tidak dikehendaki oleh-Nya.[5]

      3. klo ga salah itu Surat al-Anfal, ayat: 17 lihat saja tafsirnya. bisa buka tafsir ibnu katsir.
      4. dalam sebuah hadits dijelaskan ” …. Ya Allah Yang paling pertama, tidak ada sesuatupun sebelum-Mu, Engkau-lah yang paling akhir, tidak ada sesuatu pun setelah-Mu, Engkau-lah Yang Zhahir, tidak ada sesuatu yang mengungguli-Mu, dan Engkau Yang Bathin, sehingga tidak ada yang tersembunyi dari-Mu…” (HR muslim no.2713, dari abu hurairah)
      5. Perintah kpd Iblis laknatulloh ‘alaih untuk sujud kepada Adam ‘alaihis salam adalah sujud penghormatan, bukan ibadah, sebagiamana sujudnya orang tua Nabi Yusuf ‘alaihis salam dan saudara2nya kpd Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Namun Hal itu telah dihapus oleh syariat yg dibawa Nabi Muhammad salallahu ‘alaihi wassalam.
      6. “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” [QS. Qaaf: 16]
      Apakah ini menunjukkan bahwa Allah memang dekat dan “menyatu” dengan diri kita ?
      Jawab: Makna kedekatan dalam dua ayat di atas tidaklah bermakna bahwa Allah menyatu dengan hambanya (Al-Hulul/Wahdatul-Wujud). Ini adalah aqidah bathil. Makna kedekatan dalam dua ayat tersebut adalah kedekatan malaikat terhadap manusia. Perinciannya adalah sebagai berikut :

      Pada ayat pertama (QS. Qaaf: 16), sifat “dekat” dibatasi pengertiannya dengan penunjukkan ayat tersebut. Selengkapnya, ayat di atas lengkapnya berbunyi:

      وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ* إِذْ يَتَلَقّى الْمُتَلَقّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشّمَالِ قَعِيدٌ * مّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلاّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

      “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya; (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan (seseorang) melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” [QS. Qaaf: 16-18]

      Firman Allah [إِذْ يَتَلَقّى الْمُتَلَقّيَانِ]: “(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya” ; adalah dalil yang menunjukkan bahwa yang dimaksud oleh ayat di atas adalah dekatnya dua malaikat yang mencatat amal.

      Pada ayat kedua (QS. Al-Waqi’ah: 85), kata “dekat” di situ berkaitan dengan keadaan seseorang yang sakaratul-maut. Padahal yang hadir dalam sakaratul-maut adalah para malaikat berdasarkan firman Allah Ta’ala:

      حَتّىَ إِذَا جَآءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لاَ يُفَرّطُونَ

      “Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, malaikat-malaikat Kami akan mewafatkannya, dan malaikat-malaikat Kami itu tidakakan melalikan kewajibannya.” [QS. Al-An’am: 61]

      Sehingga, kedekatan yang dimaksud adalah kedekatan malaikat maut yang diutus Allah untuk mencabut nyawa seorang hamba.
      Wallahu a’lam..
      http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/08/allah-lebih-dekat-daripada-urat-leher.html

  26. hendraKalimantan Says:

    alhamdulillah,
    Ada yg hanya mendengar merasakan indahnya kota hanya dengan nalar imaginasi, tentu berbeda dengan masuk ke kota melihat dan merasa lewat Gerbang Ali.
    Ada banyak penafsir arab atau manapun tanpa lewat gerbang. Padahal tafsir tak hanya satu wajah.
    Dipakai dasar penafsir lain.
    Sungguh manis wajah Rasul nan agung, Muhammad utusan Allah.
    Hampa tanpa khusyuk, mati tanpa nyawa, aqidah dulu baru agama. Masuk dulu baru berujar. Tak kan asin ikan di laut jika tak mati lebih dahulu.
    Ada masa mencari, ada masa menikmati.
    Salallahu’ala Muhammad wa Abu Bakar wa Umar wa Utsman wa Ali.
    Insya Allah ku kenang dan kunanti slalu saat wajah indah Mu. Dalam mimpi dan jaga.

    • ibnu fauzy Says:

      أَناَ مَدِيْنَةُ الْعِلْمِ وَعَلِيٌ باَبُهَا، فَمَنْ أَرَادَ الْعِلْمَ فَلْيَأْتِهِ مِنْ بَابِهِ

      Aku kota ilmu dan Ali pintunya, barangsiapa yang menginginkan ilmu maka hendaklah dia mendatangi ilmu tersebut dari pintunya”.

      Maudhu’ (hadits palsu)

      Hadits ini diriwayatkan Ibnu Jarir Ath-Thabari di dalam “Tahdzibul Atsar”, Ath-Thabarani di dalam “Al-Mu’jamul Kabir 3/108/1″, Al-Hakim 3/126, Al-Khathib di dalam “Tarikh Baghdad 11/48, Ibnu Asakir “Tarikh Dimasyq 12/159/2

      Sanad hadits
      Hadits ini melalui jalur seorang rawi yang bernama Abu Shult Abdus Salam Al-Harawi.

      Berkata Adz-Dzahabi di dalam kitabnya “Adh-Dhu’afa’ wal Matrukiin”: “Dia tertuduh sebagai pemalsu hadits“.

      Berkata Abu Zur’ah: “Tidak kokoh“.

      Berkata Ibnu ‘Adi: “Tertuduh“.

      Dan ulama’ lainnya berkata: “rafidhi (beraqidahkan syi’ah rafidhah)“.

      Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar: “dia adalah seorang yang shaduq, meriwayatkan hadits-hadits munkar, dan terkena pengaruh syi’ah, Al-Uqaili berlebihan ketika mengkritiknya sebagai Kadzdzab (pendusta)”.

      Matan (kandungan) hadits

      Berkata Yahya bin Ahmad bin Ziyad: “Aku bertanya kepadanya (Ibnu Ma’in) tentang hadits yang diriwayatkan dari jalur Abu Shulth dari Abu Mu’awiyah dari A’masy: haditsnya Ibnu ‘Abbas (hadits diatas)? Maka Ibnu Ma’in mengingkari hadits tersebut“. (dikeluarkan oleh Al-Khathib)

      Berkata Ibnu Qudamah di dalam kitabnya “Al-Muntakhib 10/204/1): “Hadits dusta tidak ada asalnya“.

      Berkata Ibrahim bin Junaid: Yahya bin Ma’in pernah ditanya tentang Umar bin Ismail bin Mujalid bin Sa’id? Dia menjawab: “Pendusta, dia juga meriwayatkan dari Abu Mu’awiyah dari A’masy: (yaitu hadits) Aku kota ilmu dan Ali pintunya…..”. hadits ini dusta tidak ada asalnya.

      * hadits ini diriwayatkan dari beberapa sanad yang kesemuanya palsu sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnul Jauzi rahimahullah.

      Dari penjelasan para ulama’ pakar hadits diatas kiranya cukup bagi kita untuk mengetahui bahwa hadits tersebut palsu tidak dapat dijadikan sandaran hukum. Wallahu a’lam

  27. hendraKalimantan Says:

    many thanks for brief explanation, but would you please check this site out
    secondprince.wordpress.com/2010/02/15/shahih-hadis-imam-ali-pintu-kota-ilmu/
    alhamdulillah.
    Salallahu’ala Muhammad wa ‘ala sahabatihi ajmain.

  28. Mochammad Faishol Says:

    Syurga Bukan Hanya milik Anda Bung…!!!

    • ibnu fauzy Says:

      surga milik Allah Ta’ala dan bagi yang menginginkannya maka disyaratkan harus mengikuti Nabi salallahu ‘alaihi wassalam..
      “Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.” Maka para sahabat bertanya, ‘Siapakah orang yang enggan itu wahai Rasulullah?’. beliau menjawab, “Barangsiapa yang menaatiku akan masuk surga dan barangsiapa yang durhaka kepadaku dialah yang enggan.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)

  29. Mochammad Faishol Says:

    Kasian antum nanti sendirian di Syurga. kan yang 99.5% umat islam lainnya “dipaksa” masuk neraka!. TUbtu Minal Wahabi.

    • ibnu fauzy Says:

      Wahabi adalah : Jama’ah sesat yg didirikan Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum yang wafat tahun 211 H. Wahabi
      merupakan kelompok Khawarij yang sangat ekstrim kepada ahli sunnah dan sangat jauh dari Islam. Sangat Naif jika Wahabi disematkan kpd Syaikh Muhammad bin Abdul wahhab, karena nama beliau adalah Muhammad dan lahir tahun 1115 H.
      jika ada yang menyesatkan Syaikh Muhammad At-Tamimiy karena meneruskan dakwah Ibnu taimiyyah yang juga disesatkan, maka sesatkanpulalah murid ibnu taimiyah seperrti Ibnu katsir, adz dzahabi dsb jika memang tuduhan itu benar..

  30. hendraKalimantan Says:

    alhamdulillah,
    yakini apa yang diyakini, namun jangan menyalahkan lain.
    Menukil pendapat ulama mesti bijak karena tidak sedikit ulama yang merubah haluan dari apa yang ditulisnya.
    Contoh yang mulia Imam Gazhali ketika menjabat guru besar dan ulama besar kota sering menulis sebagai Filosof.
    Ketika menemukan tasawuf, beliau tinggalkan apa yang sudah ditulis.
    Karena pada tasawuf ada SILSILAH ILMU tafsir dari sayyidina Ali, bukan pendapat semata.
    Mari perbanyak tahajud secara Ridha.
    Salallahuala MUHAMMAD, wa Abu Bakar, wa Umar, wa Utsman wa Ali dan para pengikut beliau.

  31. syabilil haq Says:

    salam kasih semua, saudara ibnu fauzy kenapa engkau begitu mencerca para wali tanah jawa dan para sufi macam ibnu araby, ibnu taimiyah, dll. dengan engkau jadikan petikan- petikan al qur-an sebagai hujjah ? adakah anta haqqul yakin anta lebih baik dari para wali dan sufi yang dalam bahasa kasarnya anta label sebagai KAFIR itu, silahkan anta jawab?…..wa Allahu fayaghfiru limayasya wa yuadzibu mayasya wa Allahu alla kulli syaiin qodir.

    • ibnu fauzy Says:

      maaf, saya tidak mencela para wali, bahkan salah satu prinsip aqidah ahlussunnah adalah meyakini karomah para wali. cuma saya mengkritisi mitos seputar wali yg belum tentu kebenarannya yang sering dilebih-lebihkan. tentang ibnu araby maka sudah maklum ucapannya yang kelewat kufur, banyak ucapan ulama ahlussunnah yang menbantahnya. sedangkan ibnu taimiyah, maka dia termasuk imam ahlussunnah, seorang wali alim ulama yang sulit dicari tandingannya, beliau juga menulis kitab yang menjelaskan perbedaan wali Allah dan wali syaitan.
      silahkan baca buku “darah hitam tasawuf”. saya tidak pernah memvonis kafir kpd siapapun.

  32. ASEP Says:

    mas kalau mau menjelaskan sesuatu kamu mesti minta petunjuk ALLoh bukan asal logika kamu saja
    sudah berapa kali dan lama kah anda sholat untuk menerangkan ini kalau ini berdasarkan penafsiran kamu dan logika tanpa di dasari sholat dan minta kebenaran kepada pemilik kebenaran maka sama saja kamu telah mengeluarkan ajaran sesat yang berdasarkan logika dan penafsiran kamu saja .
    semoga kamu ngerti jangan sampai kamu mengartikan yang kamu artikan yang kamu sendiri tidak tahu secara pasti apa bedanya kamu dengan yang suka menyesatkan

    • ibnu fauzy Says:

      mas asep, bukankah tulisan saya diatas didasarkan pada ayat Al-Qur’an dan bukan logika semata ? untuk memahami agama harus dengan mencari ilmu, kalau sholat saja tanpa mencari ilmu ya bagaimana bisa memahami agama ini dengan benar..
      Barokallohu fikum

  33. ASEP Says:

    mas yang punya bener adalah ALLOH dan yang tahu bener adalah ALLOH juga trus pernahkah anda sholat dan minta kebenarannya dan sudah berapa raka at dan lama kah anda sholat minta jawaban dari ALLOH setahu ku yang bodoh ini ALLOH menyuruh kita untuk melakukan itu kalau kita tidak tahu akan sesuatu hal karena saya kuatir anda menafsirkan Al-Qur’an dan Hadist nay berdasarkan logika anda saja tampa melakukan sholat untuk minta petunjuk kepada yang punya kebenaran
    semoga anda dapat memahaminya

  34. abdillah Says:

    Masalah Tabarruk
    Masalah ini perlu saya bahas agar tidak ada yang salah paham mengenai cerita diatas. Tabarruk adalah bagian daripada tawassul, yaitu mengambil perantara didalam berdoa kepada Allah. Yang dimaksud mengambil perantara adalah merayu Allah dengan menyebut-nyebut orang yang dicintai Allah. Ketika seseorang bertawassul dengan Nabi, misalnya, maka seolah-olah ia berkata: “Ya Allah, kalau Nabi saja aku cintai karena beliau kekasih-Mu, maka apalagi Engkau, tentu Engkau lebih aku cintai. Maka berkat cinta ini kabulkanlah doaku”. Itulah yang dimaksud tawassul. Adapun tabarruk adalah bertawassul dengan menyentuh benda-benda yang berhubungan dengan kekasih Allah. Maka tabarruk masih dalam rentetan tawassul. Ketika seseorang bertabarruk dengan baju bekas orang shaleh, misalnya, maka seolah-olah ia berkata: “Ya Allah, kalau baju bekas orang shaleh saja aku cintai, apalagi orang shaleh yang punya baju. Dan karena aku mencintai orang shaleh itu karena dia adalah kekasih-Mu, maka apalagi Engkau, tentu Engkau lebih aku cintai. Maka berkat cinta ini kabulkanlah doaku.”
    Orang yang menentang tawassul dan tabarruk itu sebenarnya disebabkan karena ia tidak mengerti tentang dua hal, yaitu tidak mengerti maksudnya dan tidak mengerti bahwa Syari’at Islam mengajarkan tawassul dan tabarruk sebagai salah satu cara beribadah.
    Tawassul diajarkan dalam Syari’at Islam, diantara dalil-dalilnya adalah sebagai berikut:
    1. Allah SWT berfiran:
    يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَابْتَغُوْا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ..
    “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan ambillah perantara kepadaNya..” (Q.S. Al-Maidah : 35)
    2. Allah SWT berfirman:
    أُولـئِكَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ يَبْتَغُوْنَ إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ
    “Mereka adalah orang-orang yang berdoa dengan mengambil perantara kepada Tuhan mereka.” (Q.S. Al-Isra’ : 57).
    3. Allah berfirman:
    .. وَكَانُوْا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُوْنَ عَلى الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوْا كَفَرُوْا بِهِ ..
    “.. Dan adalah mereka sebelumnya telah memohon (kepada Allah) akan kemenangan atas orang-orang kafir. Dan ketika datang apa yang mereka kenal itu merekapun kemudian mengingkarinya. ..” (Q.S. Al-Baqarah : 89)
    Kata Sahabat Abdullah bin Abbas, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Ktasir dalam Tafsirnya, Yang dimaksud ayat itu adalah orang Yahudi Khaibar, ketika berperang dengan orang-orang Ghathfan, mereka terdesak dan kemudian berdoa kepada Allah berta-wassul dengan Nabi akhir zaman. Akan tetapi setelah Rasulullah muncul mereka malah mengingkari beliau. Riwayat ini menyimpulkan bahwa Allah membenarkan orang yang bertawassul dengan orang shaleh walaupun ia belum lahir, apabila kelahiranya telah dikabarkan oleh Allah.
    4. Ketika memakamkan ibu Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang bernama Fathimah binti Asad, Rasulullah turun sendiri ke liang lahat kemudian memuji Allah dan berdoa:
    اِغْفِرْ لِأُمِّيْ فَاطِمَةَ بِنْتِ أَسَدٍ وَلَقِّنْهَا حُجَّتَهَا وَوَسِّعْ عَلَيْهَا مَدْخَلَهَا بِحَقِّ نَبِيِّكَ وَالأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِيْ ..
    “Ampunilah ibuku, Fathimah binti Asad, dan tuntunlah ia akan hujjahnya (jawaban pertanyaan kubur) dan lapangkanlah tempatya, dengan kebenaran Nabi-Mu dan Nabi-Nabi sebelumku..” (H.R. Ath-Thabrani dan Ad-Dailami, dinyatakkan shahih oleh Al-Haitsami)
    Hadits ini menyimpulkan bahwa tawassul dengan orang shaleh yang telah meninggal itu juga diajarkan oleh Rasulullah, karena para Nabi yang ditawassuli oleh beliau telah meninggal semua.
    5. Al-Imam Ath-Thabrani meriwayatkan dalam kedua kitabnya, “Al-Mu’jam Al-Kabir” (9/17) dan “Al-Mu’jam Ash-Shaghir” (hal. 201), bahwa Sahabat Utsman bin Hunaif meriwayatkan, bahwa suatu ketika ada seseorang yang datang menemui Khalifah Utsman bin Affan, orang itu datang dengan suatu keperluan, akan tetapi (mungkin karena sibuk dengan suatu masalah) Khalifah tidak menaggapinya. Maka Utsman bin Hunaif berkata kepadanya:
    “Berwudhu’lah dan shalat dua raka’at, kemudian bacalah:
    اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، يَا مُحَمَّدُ إِنِّيْ أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلى اللهِ فِيْ حَاجَتِيْ لِتُقْضى لِيْ
    Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepadamu dengan Nabi kami, Muhammad Nabi rahmat. Wahai Nabi Muhammad, denganmu aku menghadap Tuhanku dalam urusan keperluanku ini agar dipenuhinya.
    Kemudian kembalilah menemui Khalifah.”
    Orang itupun melakukan himbauan Utsman bin Hunaif kemudian kembali mendatangi Khalifah Utsman bin Affan. Begitu menemui pengawal ia langsung dibawa masuk dan Khalifah mempersilahkan dia duduk di dekatnya, iapun ditanya apa keperluannya dan Khalifahpun langsung memenuhinya. Seberanjaknya dari Khalifah, orang itu langsung menemui Utsman bin Hunaif dan berkata: “Semoga Allah membalas jasamu dengan baik. Semula Khalifah sama sekali tidak mempedulikanku, bahkan tidak mau menoleh sedikitpun paadaku, sampai engkau membantuku dengan berbicara padanya.” Orang itu mengira Utsman bin Hunaif telah memberi rekomendasi pada Khalifah Utsman bin Affan. Maka Utsman bin Hunaif berkata: “Demi Allah, aku tidak berbicara apa-apa pada Khalifah, akan tetapi aku pernah menyaksikan Rasulullah SAW ketika didatangi seseorang mengadukan matanya yang buta. Rasulullah berkata: “Kalau kau mau maka kau bisa bersabar, dan kalau kau mau maka aku akan mendoakanmu.” Orang itu menjawab: “Ya Rasulallah, kebutaan ini menyulitkan saya, karena saya tidak punya siapa-siapa untuk menuntun saya.” Maka Rasulullah SAW bersabda: “Berwudhu’lah dan shalatlah dua raka’at kemudia berdoalah .. dst.” Yaitu doa diatas. Utsman bin Hunaif melanjutkan dan berkata: “Orang itupun melakukan apa yang diajarkan Rasulullah SAW. Dan demi Allah, tidak beberapa lama kemudian orang itupun kembali dengan keadaan dapat melihat, seolah-olah matanya tidak pernah sakit sama sekali.”
    Riwayat ini menyimpulkan dua hal:
    Pertama, bahwa bertawassul dengan orang shaleh yang hidup dan memanggil namanya dari jauh itu tidak apa-apa, walaupun yang ditawassuli tidak mendengar panggilannya, karena dalam riwayat diatas Utsman bin Hunaif berkata “tidak beberapa lama orang itupun kembali dengan keadaan dapat melihat”, maka berarti orang itu membaca doa tawassul yang ada kalimat “ya Rasulullah”nya tidak di hadapan Rasulullah SAW.
    Kedua, bahwa bertawassul dengan orang shaleh yang telah meninggal dunia itu tidak apa-apa, karena cerita diatas terjadinya pada zaman Khalifah Utsman bin Affan dan Rasulullah SAW telah meninggal dunia.
    6. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan tentang tiga orang yang terperangkap dalam gua karena tiba-tiba ada batu besar terjatuh dari atas gunung dan menutup pintu gua itu. Kemudian mereka bertawassul dengan menyebut amal shaleh mereka masing-masing, sehingga batu itupun bergeser dan terbukalah pintu gua. Hadits ini menyimpulkan bahwa bertawassul dengan amal shaleh juga diajarkan oleh Rasulullah SAW.
    7. Al-Bukhari, Muslim dan Abu Dawud meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah mencukur rambut untuk tahallul haji, kemudian rambut itu beliau serahkan pada Sahabat Thalhah untuk dibagikan pada Sahabat-sahabat yang lain. Maka para sahabatpun berebut rambut Rasulullah, tentu saja untuk ngalap berkah (tabarruk), karena rambut tidak bisa dimakan. Diantara mereka ada yang mencelup rambut Rasulullah ke dalam air kemudian airnya diminumkan pada orang sakit.
    8. Al-Hafizh Ibnu Hajar meriwayatkan dalam kitabya, “Al-Mathalib Al-‘Aliyah” (4/90), bahwa Sahabat Khalid bin Al-Walid berebut rambut Rasulullah ketika bercucukur untuk tahallul umroh, kemudian rambut itu segera ia selipkan di kopiahnya. Khalid berkata: “Dalam memimpin setiap pertempuran aku selalu menang tanpa cedera sedikitpun apabila aku memakai kopiah yang ada rambut Rasulullah itu.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Abu Ya’la serta dinyatakan shahih oleh Al-Haitsami dan Al-Bushiri.
    9. Al-Imam Muslim meriwayatkan, bahwa Asma’ binti Abi Bakar memiliki jubah Rasulullah dan beliau berkata: “Jubah ini dulunya ada pada Aisyah, setelah ia meninggal akupun mewarisinya. Jubah itu pernah dipakai oleh Rasulullah SAW. Maka kamipun suka merendam jubah itu ke dalam air dan airnya kami minumkan pada orang sakit untuk mengharap kesembuhan.
    Ketiga hadis terakhir ini menyimpulkan bahwa Rasulullah membenarkan tabarruk dengan benda bekas orang shaleh. Dan masih banyak lagi Hadits-hadits shahih yang meriwayatkan tentang bagaimana para Sahabat bertabarruk dengan benda-benda bekas Nabi yang lain, seperti potongan kuku, bekas air wudhu dan sebagainya.
    Kesimpulannya, tawasul dan tabarruk itu diajarkan oleh syari’at. Tawassul boleh dengan Amal shaleh, dengan Nabi, Malaikat dan orang-orang shaleh, baik mereka belum lahir, masih hidup maupun telah meninggal dunia. Sejak zaman Sahabat Nabi, semua ulama sepakat akan hal itu, tidak ada yang berbeda pendapat sampai muncullah seorang bernama Ibnu Taimiyah, iapun banyak menimbulkan masalah dengan pendapat-pendapat kontrofersialnya, termasuk pendapatnya bahwa tawassul dengan orang yang telah meninggal itu termasuk jenis syirik. Dalam hal ini Ibnu Taimiyah pernah melakukan kebohongan dengan mengatakan bahwa tidak ada ulama yang membolehkan tawassul dengan orang yang telah meninggal, seperti yang ia tulis dalam kitab “At-Tawassul wal-Wasilah” (hal.24). Padahal dalam kitabnya yang lain, yaitu “Al-Fatawa Al-Kubra” (1/351), Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa Al-Imam Ahmad bin Hanbal dalam salah satu riwayatnya membolehkan tawassul dengan Nabi.
    Diantara Hadits tawassul, mereka hanya mau menerima riwayat Utsman bin Hunaif saja sebagai Hadits yang benar-benar shahih, itupun mereka tidak mau menerima pendapat Utsman yang bertawassul dengan Rasulullah setelah beliau wafat. Mereka hanya mau menerima bahwa Rasulullah mengajarkan tawassul ketika beliau masih hidup.
    Untuk itu saya kemukakan beberapa hal berikut:
    a. Kalau mereka menolak Hadits-hadits yang lain yang telah dishahihkan oleh ulama ahli Hadits semacam Al-Hakim, Adz-Dzahabi, Al-Asqalani, Al-Qusthallani dan sebagainya, maka kita tinggal memilih saja, kita lebih percaya terhadap keahlian siapa dalam ilmu Hadits. Siapa Ibnu Taimiyah dibanding mereka? Dia digelari “Syaikhul Islam” hanya oleh pengikut fanatiknya saja, sementara hampir semua ulama besar justru pernah menasehati umat agar tidak tertipu oleh pendapat-pendapatnya. Apakah kita akan percaya pernyataan Ibnu Taimiyah dan mencampakkan nama-nama besar itu yang masing-masing mereka bergelar “Al-Hafizh” yang berarti telah hafal sedikitnya sepuluh ribu Hadits dengan sanadnya? Apakah kita lebih percaya pada Ibnu Taimiyah yang banyak memberi pernayataan “plin-plan” dalam berbagai kitabnya? Dalam segi ketelitian berargumentasi, Ibnu Taimiyah sudah jelas nampak kacau balau, ia tidak memenuhi syarat walaupun untuk disebut sebagai “peneliti”, apalagi untuk disebut sebagai “ahli Hadits! Lantas bagaimana mungkin kita mau memegang omongannya!
    b. Ketika mereka (Ibnu Taimiyah dan pegikutnya) menyatakan haram atau syirik terhadap tawassul dengan orang meninggal, maka berarti mereka menganggap sesat dan syirik terhadap perbuatan Utsman bin Hunaif, berarti Sahabat Nabi ada yang sesat dan syirik. Beranikah mereka katakan itu di hadapan Rasulullah?
    c. Kita tidak usah membicarakan Hadits yang lain. Kalaupun hanya riwayat Utsman bin Hunaif yang shahih, bahwa Rasulullah mengajarkan tawassul sewaktu beliau hidup, riwayat ini sama sekali tidak menyimpulkan bahwa tawassul dengan Nabi itu hanya berlaku selama beliau hidup. Seandainya memang tawassul dengan orang meninggal itu sesat maka tentu Rasulullah adalah orang yang paling hawatir umat beliau tersesat, maka tentu beliau akan berpesan pada orang yang diajari tawassul itu agar “tawassul dengan Nabi” tidak dipakai setelah beliau wafat. Kenyataannya Rasulullah menyuruh tawassul dengan diri beliau tanpa mengkhususkan selama beliau hidup. Maka barang siapa mengkhususkan sesuatu yang tidak dikhususkan oleh Rasulullah, maka ia jelas-jelas telah melakukan bid’ah yang sesat.
    d. Mereka berdalih dengan sebuah riwayat shahih bahwa Khalifah Umar bin Khaththab pernah bertawassul dengan Sayyidina Abbas bin Abdul Muththalib, paman Nabi, pada saat shalat istisqa’ setelah Nabi wafat. Mereka, pikir, kalau memang tawassul dengan orang meninggal itu boleh maka tentu Khalifah Umar akan bertawassul dengan Nabi. Paham ini sebenarnya sangat dangkal dan nampak sekali kesan pemaksaannya hanya demi untuk mendukung pendapat mereka. Coba kita perhatikan berita kalimat ini: “Umar bertawassul dengan Abbas, waktu tawassulnya setelah Nabi wafat”. Jujur saja, kalimat ini memberi dua kesimpulan, yang pertama sifatnya pasti dan yang kedua sifatnya hanya mungkin. Pertama, berarti boleh bertawassul dengan selain Nabi. Yang kedua, bisa jadi Umar menganggap tidak boleh bertawassul dengan orang meninggal, makanya beliau bertawassul dengan Abbas yang masih hidup. Kemungkinan yang kedua ini hanya “bisa jadi”, artinya bisa juga tidak. Nah, dalam kaidah Ushul Fiqih, memutuskan suatu hukum itu harus berdasarkan nash (dalil) yang tidak memiliki banyak kemungkinan kesimpulan. Kaidah mengatakan:
    عِنْدَ وُجُوْدِ الاِحْتِمَالِ سَقَطَ الاِسْتِدْلاَلُ
    “Ketika ada kemungkinan maka gururlah penggunaan dalil.”
    Jadi, orang yang mengerti Ushul Fiqih akan merasa malu untuk menjadikan riwayat Umar ini sebagai hujjah untuk mengharamkan tawassul dengan orang yang telah meninggal.
    e. Mereka mengaggap tawassul dengan orang yag telah meninggal sebagai syirik, kalau dengan orang yang masih hidup maka tidak. Lantas apa bedanya? Bertawassul dengan seseorang itu karena melihat status orang yang ditawassuli, karena kita mengaggap dia sebagai kekasih Allah. Nah, status kekasih Allah itu tidak berubah setelah ia meninggal. Sebagian mereka berkata bahwa orang yang telah meninggal itu tidak bisa memberi manfaat sebagaimana orang yang masih hidup.” Yang lain berkata: “Allah itu Maha Dekat dan Mendengar, mengapa kita tidak langsung saja berdoa kepada Allah tanpa perantara!” Maka pernyataan itu semakin memperjelas kesahpahaman mereka. Berarti, menurut mereka, tawassul itu minta pada orang yang ditawassuli. Ini sudah jelas keluar dari arti “bertawassul dengan seseorang”. Dari segi bahasa saja mereka telah salah memahami arti tawassul. Secara bahasa, tawassul itu artinya memohon dengan merengek atau merayu. Maka bertawassul dengan seseorang itu artinya meminta kepada Allah dengan sebuah rayuan berupa menyebut orang yang dicintai Allah. Sama dengan merayu Zaid bin Umar, misalnya, dengan berkata “Saya penggemar orang tua Anda, maka demi dia, tolonglah saya.” Coba perhatikan, siapa yang dimintai diatara Zaid dan Umar itu? Zaid, Umar atau dua-duanya? Kalau ada yang bilang berarti minta pada Umar atau pada dua-duanya Zaid dan Umar, berarti orang itu belum bisa disebut “bisa berbahasa dengan benar”.
    Itulah beberapa hal yang semoga dapat membantu mereka untuk memahami arti tawassul. Baragkali mereka memang kurang punya sopan santun sehingga tidak menghormati ulama-ulama ahli Hadits dan sembarangan menyebut mereka sesat. Setidak-tidaknya agar mereka tidak buru-buru menganggap sesat dan syirik terhadap mereka
    Syirik yang sebenarnya
    Syirik yang sebenarnya adalah ketika kita meminta pada seseorang, baik yang diminta itu masih hidup atau sudah mati, dengan berkeyakinan bahwa dia mampu memberi dengan kemampuan mutlak sebagaimana kemampuan yang dimiliki Allah. Coba kita tanya pada orang yang bertawassul dengan para wali itu, seawam apapun mereka tidak pernah meyakini bahwa para wali yang ditawassuli itu mampu memberi dengan kemampuan mutlak sebagaimana kemampuan yang dimiliki Allah. Demikian pula dengan tabarruk, ketika mereka menyentuh, mencium dan meminum air rendaman benda bekas orang shaleh, mereka tidak pernah menganggap benda itu memiliki kekuatan sebagaimana kekuatan yang dimiliki Allah. Mereka hanya berharap dengan itu Allah tersentuh untuk mengabulkan doa mereka, atau berharap untuk mendapat ridha Allah. Hal ini sama dengan perihal orang yang mencium hadiah pemberian Anda di hadapan Anda. Coba apa yang Anda pikirkan tentang orang itu? Menurut Anda apa yang ia tuju dengan mencium hadiah itu di hadapan Anda? Anda pasti berfikir bahwa dia melakukan itu untuk membuat Anda senang. Demikian pulalah yang terjadi pada orang yang bertabarruk, mereka berharap Allah senang dengan tabarruk itu, karena yang mereka tabarruki adalah orang atau benda bekas orang yang dicintai Allah. Itulah yang terjadi pada umumnya kaum muslimin yang bertabarruk. Kecuali orang awam yang memang masih dalam pengaruh kepercayaan kuno pra Islam. Dan untuk orang seperti ini tentu saja kita wajib memberi pengarahan.
    Sumber http://azmatkhanalhusaini.com/index.php?option=com_content&task=view&id=32&Itemid=70
    Hidup adalah proses

  35. sunan gunung jati al karomah Says:

    Allahu Akbar….mas fauzy yg pandai…kalo menurut anda wali songo hanyalah mitos lalu siapa yang menyebarkan islam di Indonesia…..nenek moyong lu….ya….

    • ibnu fauzy Says:

      saya tidak berkesimpulan bahwa walisanga itu mitos, silahkan baca yang cermat tulisan saya di atas..
      hanya saja saya mengkritisi cerita yang banyak beredar yang cenderung fiktif dan banyak versi. cerita tsb justru membuat citra negatif kpd para walisanga. dan saya berkhusnudhon beliau-beliau tidak seperti di cerita-cerita itu..
      bukankah kita harus selektif dalam menerima kabar ?

    • ibnu fauzy Says:

      saya tidak mengatakan bahwa walisongo hanyalah mitos, cermati tulisan saya dengan teliti. hanya yang saya soroti adalah cerita khurofat yang disandarkan kepada para walisanga tsb..

  36. sunan gunung jati al karomah Says:

    smoga Allah memberikan petunjuk kepada saudara untuk mencari kebenaran cerita-cerita walisanga.kesalahan datangnya dari diri pribadi dan kebenaran datangnya dari Allah…Hendaklah melihat 99 kejelekan diri pribadi sebelum mengkritisi 1 kejelekan orang lain,dan hendaklah melihat 99 kebaikan orang lain sebelum mengkritisi 1 kejelekan dari orng lain..

  37. anto Says:

    wali songo adalah ada dan fakta.beliau beliau yang menyebarkan agama islam di jawa.sekarang saja yang salah mengartikan arti wali songo.wali songo adalah julukan buat para tokoh penyebar islam waktu itu.jdi bkan berarti jumlahnya sembilan tapi yang termasuk wali songo adalah ratusan tokoh bahkan mungkin ribuan.kita harus menghormati jasa jasa beliau tanpa beliau yang berperan mungkin kita masih jdi non muslim.kita akan jadi bangsa yang durhaka bila tidak mengakui adanya wali songo.tentang cerita sunan kalijogo.harus dipahami secara hakikat.beliau tidak bertapa di ditepi sungai tetapi diperintahkan sunan ampel untuk menjaga tongkat sampai tongkat itu diambil.karena kekeuasaan alloh beliau menjaga sampai bertahun tahun.itu hanya salah satu tanda kekuasaan alloh.islam adalah agama yang selalu mengikuti zaman dan keadaan.islam di siarkan di jawa lain situasinya dengan diu arab. yang dihadapi para oenyiar islam adalah ilmu mistis jawa. jadi alloh menganugrahkan ilmu ituy kepada para penyiar islam secara langsung tidak dengan puasa atau sarat sarat yang kita kenak sekarang. wali songo tidak mengenal apa itu puasa ngebleng pati geni , beliau tidak pernah melakukan.semua kelebihan langsung diperoleh dari kekuasaan alloh.cuma kita yang bodoh sekarang kita berlomba lomba mencari ilmu kesaktian dengan berbagai sarat.itu tidak dibenarkan islam dan tidak amalan siapa itu yang dikenal wali songo.

    • andi Says:

      Wali Songo adalah sebutan rakyat pada masa itu sebagai tokoh yang berjuang demi tegaknya nama Alloh di Indonesia khususnya tanah Jawa.Memeng benar Wali Songo tidak hanya berjumlah 9 orang.Wali songo diibaratkan sekarang adlah sebagai organisasi atau semacam dewan dakwah pada masa itu.Jadi Wali Songo tidak hanya terdiri nhanya 9 orang saja, tetapi bisa lebih dari itu.

  38. yanto Says:

    sebetulnya komentar2 dan jawaban2 diatas itu mengomentari sutradara dr film walisongo…. toh kt semua tdk tau dan tdk bs membuktikan kebenaran dr bukti2 yg ditinggalkan para wali tsb. yg hrs kt percaya adalah pokok nya ada wali ygmenyebarkan agama islam ke tanah jawa, siapa pun wali itu bkn urusan kt. dan kt tdk boleh dan tdk berhak mengomentari bahwa seseorang itu kafir, syirik, murtad dsb… itu prerogatif Alloh SWT, Hablumminalloh…. saran sy utk anda2, jalankan rukun iman, rukun islam, dan cari uang sebanyak banyak nya dan tentu nya yg Halal agar dpt bertahan hidup di dunia dan dpt beribadah utk bekal akhirat. titik. caaappeee deeeehhh….

    • andy Says:

      saya sependapat dengan saudara, memang kita tidak boleh mengecap semau kita bahwa orang lain adalah sesat.tetapi akan lebih baik jika kita mau menghormati jasa jasa para pejuang islam di masa lampau

  39. siliwangi Says:

    Diantara keyakinan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah meyakini adanya Karomah dan ia datang dari sisi Allah Ta’ala. Tahukah, apa yang dimaksud dengan Karomah?
    Karamah adalah kejadian di luar kebiasaan (tabiat manusia) yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba tanpa disertai pengakuan (pemiliknya) sebagai seorang nabi, tidak memiliki pendahuluan tertentu berupa doa, bacaan, ataupun dzikir khusus, yang terjadi pada seorang hamba yang shalih, baik dia mengetahui terjadinya (karamah tersebut) ataupun tidak, dalam rangka mengokohkan hamba tersebut dan agamanya. (Syarhu Ushulil I’tiqad 9/15 dan Syarhu Al Aqidah Al Wasithiyah 2/298 karya Asy Syaikh Ibnu Utsaimin)

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Dan termasuk dari prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini adanya Karomah para wali dan apa-apa yang Allah perbuat dari keluarbiasaan melalui tangan-tangan mereka baik yang berkaitan dengan ilmu, mukasyafat (mengetahui hal-hal yang tersembunyi), bermacam-macam keluarbiasaan (kemampuan) atau pengaruh-pengaruh.” (Syarah Aqidah Al Wasithiyah hal.207).

    Karomah ini tetap ada sampai akhir zaman dan terjadi pada umat ini lebih banyak daripada umat-umat sebelumnya, yang demikian itu menunjukan keridhoan Allah Ta’ala terhadap hamba-Nya dan sebagai pertolongan baginya dalam urusan dunianya atau agamanya. Namun bukan berarti Allah Ta’ala benci terhadap orang-orang yang tidak nampak karomah padanya.

    Perkara “Karomah” ini telah tsabit (tetap) secara nash baik dalam Al Qur’an maupun Sunnah bahkan juga secara kenyataan.

    Kepada siapakah Karomah ini diberikan?
    Karomah ini Allah Ta’ala berikan kepada hamba-hamba-Nya yang benar-benar beriman serta bertaqwa kepada-Nya, yang disebut dengan wali Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman ketika menyebutkan tentang sifat-sifat wali-wali-Nya :
    أَلاَ إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿٦٢﴾ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ
    (artinya):
    “Ketahuilah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati, yaitu orang-orang yang beriman dan mereka senantiasa bertaqwa”. (QS. Yunus: 62-63)

    Dalam ayat ini Allah Ta’ala mengabarkan tentang keadaan wali-wali-Nya dan sifat-sifat mereka, yaitu: “Orang-orang yang beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya dan hari akhir serta beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk.”

    Kemudian mereka merealisasikan keimanan mereka dengan melakukan ketakwaan dengan cara melakukan segala perintah Allah Ta’ala dan meninggalkan segala larangan-Nya. (Taisir Karimir Rahman karya As Sa’di hal, 368)

    Apakah wali Allah itu memiliki atribut-atribut tertentu?
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa wali-wali Allah itu tidak memiliki sesuatu yang membedakan mereka dengan manusia lainnya dari perkara-perkara dhahir yang hukumnya mubah seperti pakaian, potongan rambut atau kuku. Dan merekapun terkadang dijumpai sebagai ahli Al Qur’an, ilmu agama, jihad, pedagang, pengrajin atau para petani. (Disarikan dari Majmu’ Fatawa 11/194)

    Apakah wali Allah itu harus memiliki karamah? Lebih utama manakah antara wali yang memilikinya dengan yang tidak?
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa tidak setiap wali itu harus memiliki karamah. Bahkan, wali Allah yang tidak memiliki karamah bisa jadi lebih utama daripada yang memilikinya. Oleh karena itu, karamah yang terjadi di kalangan para Tabi’in itu lebih banyak daripada di kalangan para Sahabat, padahal para Sahabat lebih tinggi derajatnya daripada para Tabi’in. (Disarikan dari Majmu’ Fatawa 11/283)

    Apakah setiap yang di luar kebiasaan dinamakan dengan ‘Karamah’?
    Asy Syaikh Abdul Aziz bin Nashir Ar Rasyid rahimahullah memberi kesimpulan bahwa sesuatu yang di luar kebiasaan itu ada tiga macam:
    - Mu’jizat yang terjadi pada para Rasul dan Nabi
    - Karamah yang terjadi pada para wali Allah
    - Tipuan setan yang terjadi pada wali-wali setan (Disarikan dari At Tanbihaatus Saniyyah hal. 312-313).

    Sedangkan untuk mengetahui apakah itu karamah atau tipu daya setan tentu saja dengan kita mengenal sejauh mana keimanan dan ketakwaan pada masing-masing orang yang mendapatkannya (wali) tersebut. Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata: “Apabila kalian melihat seseorang berjalan di atas air atau terbang di udara maka janganlah mempercayainya dan tertipu dengannya sampai kalian mengetahui bagaimana dia dalam mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam.” (A’lamus Sunnah Al Manshurah hal. 193)

    Beberapa contoh Karamah
    1. Allah Ta’ala berfirman (artinya):
    فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَامَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
    “Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.”. (QS. Al Imran: 37)
    Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di berkata: “Ayat ini merupakan dalil akan adanya Karomah para wali yang keluar dari kebiasaan manusia, sebagaimana yang telah mutawatir dari hadits-hadits tentang permasalahan ini. Berbeda dengan orang-orang yang tidak meyakini tentang adanya Karomah ini.” (Taisir Karimur Rahman hal: 129)
    2. Apa yang terjadi pada “Ashhabul Kahfi” (penghuni gua). Suatu kisah agung yang terdapat dalam surat Al Kahfi. Allah berfirman :
    إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ ءَامَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
    (artinya):
    “Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka dan kami tambahkan pada mereka petunjuk.” (QS. Al Kahfi: 13).
    Mereka ini (Ashabul Kahfi) sebelumnya hidup di tengah-tengah masyarakat yang kafir (dengan pemerintahan yang kafir) lalu mereka lari dari masyarakat itu. Dalam rangka menyelamatkan agama mereka, kemudian Allah melindungi mereka di dalam Al Kahfi (gua yang luas yang berada di gunung).

    Tatkala Allah Ta’ala telah selamatkan mereka di dalam gua tersebut, lalu Allah tidurkan mereka dalam waktu yang sangat panjang, disebutkan dalam ayat (artinya):
    “Mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).” (Al Kahfi:25).
    3.Diantara Karomah para wali yang disebutkan dalam Al Qur’an adalah apa yang terjadi pada Dzul Qarnain yaitu seorang raja yang shalih yang Allah nyatakan (artinya): “Sesungguhnya kami telah memberi kekuasaan kepadanya di muka bumi dan kami telah memberikan kepadanya jalan untuk mencapai segala sesuatu”. (Al Kahfi :84)
    4. Diantara Karomah para wali juga apa yang terjadi pada kedua orang tua seorang anak yang dibunuh oleh nabi Khidhir yang ketika itu nabi Musa mengatakan: ”Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih padahal dia tidak membunuh orang lain?“, yang kemudian Khidhir menjawabnya: “Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang yang mukmin dan kami khawatir bahwa dia akan menariknya kepada kesesatan dan kekafiran.” (Al Kahfi:74)
    5. Apa yang telah diriwayatkan secara mutawatir tentang berita Salafus Shalih dari para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam, Tabi’in, Tabiut Tabi’in dan generasi setelah mereka tentang perkara Karomah yang terjadi pada diri mereka.

    Perbedaan Antara Karomah Dan Perbuatan Syaithon
    Ada sesuatu yang bukan mu’jizat dan juga bukan Karomah, dia adalah “Al Ahwal As Syaithoniyyah” (perbuatan syaithon). Inilah yang banyak menipu kaum muslimin, dengan anggapan bahwa ia Karomah, padahal justru tidak ada kaitannya dengan Karomah, karena:
    - Karomah datangnya dari Allah Ta’ala sedangkan ia jelas datangnya dari syaithon. Sebagaimana yang terjadi pada Musailamah Al Kadzdzab dan Al Aswad Al Ansyi (Dua orang pendusta di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam yang mengaku menjadi nabi) dan menyampaikan perkara-perkara yang ghoib, ini jelas merupakan perbuatan syaithon.
    - Demikian pula Karomah para wali disebabkan karena kuatnya keimanan dan ketaatan mereka kepada Allah Ta’ala. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: ”Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah Ta’ala maka ia pun menjadi wali Allah Ta’ala”. Sedangkan perbuatan syaithon ini dikarenakan kufurnya mereka kepada Allah Ta’ala dengan melakukan kesyirikan-kesyirikan serta kemaksiatan kepada Allah Ta’ala, dan syarat-syarat tertentu yang harus ia lakukan.
    - Karomah merupakan suatu pemberian dari Allah Ta’ala kepada hamba-Nya yang shalih dengan tanpa susah payah darinya, berbeda dengan perbuatan syaithon, maka ini terjadi dengan susah payah setelah sebelumnya ia berbuat syirik kepada Allah Ta’ala.
    - Karomah para wali tidak bisa disanggah atau dibatalkan dengan sesuatupun. Berbeda dengan perbuatan syaithon yang dapat dibatalkan dengan menyebut nama-nama Allah Ta’ala atau dibacakan ayat kursi atau yang semisalnya dari ayat-ayat Al Qur’an. Bahkan Syaikhul Islam menyebutkan bahwa ada seseorang yang terbang di atas udara kemudian datang seseorang dari Salafushshalih lalu dibacakan ayat kursi kepadanya maka seketika itu dia jatuh dan mati.
    - Karomah itu tidaklah menjadikan seseorang sombong dan merasa bangga diri, justru dengan adanya Karomah ini menjadikannya semakin bertaqwa kepada Allah dan semakin mensyukuri nikmat Allah Ta’ala. Adapun perbuatan syaithon bisa menjadikan seseorang bangga diri atau sombong dengan kemampuan yang dia miliki serta angkuh terhadap Allah Ta’ala, sehingga jelaslah bagi kita akan hakekat Karomah dan perbuatan syaithon.

    Syubhat dan Bantahannya
    Ada beberapa kelompok yang mengingkari adanya Karomah, yaitu: Jahmiyah, Mu’tazilah’ dan sebagian dari Asy’ariyah. Mereka berdalil dengan syubhat-syubhat yang dilandasi dengan akal mereka yang rendah. Mereka mengatakan: ”Bahwa terjadinya Karomah itu hanya merupakan perkara yang akan menjadikan kesamaran antara nabi dengan para wali dan antara wali dengan Dajjal.”

    Bantahan syubhat ini (secara ringkas) adalah:
    Pertama: kita yakin dengan keyakinan yang penuh bahwa Karomah itu benar-benar ada berdasarkan dalil baik dari Al Qur’an maupun As Sunnah dan kenyataan yang ada.
    Kedua: ucapan mereka bahwa Karomah dapat menjadikan kesamaran antara wali dengan seorang Nabi, justru tidaklah demikian karena wali sama sekali tidak berkaitan dengan kenabian, dan apa yang terjadi dari Karomah itu dikarenakan kuatnya keimanan dan ketakwaan dia kepada Allah Ta’ala dan disebabkan waro’nya.

    Sedangkan kesamaan antara wali dengan Dajjal, maka sungguh dapat dilihat dari kehidupan seseorang yang terjadi padanya keluarbiasaan itu. Kemudian dilihat dari keadaan orang ini apakah dia seorang yang shalih atau seorang yang fasiq. Demikianlah timbangan yang benar didalam menghukumi seseorang yang terjadi padanya perkara-perkara yang di luar kebiasaan manusia.

    Macam-Macam Manusia Dalam Mensikapi Masalah Karomah
    Pertama: Orang-orang yang mengingkari adanya Karomah yaitu dari kelompok ahli bid’ah seperti Mu’tazilah, Jahmiyyah, dan sebagian dari Asy’ariyah. Dengan alasan yang telah disebutkan diatas.
    Kedua: Orang-orang yang bersikap ghuluw (berlebih-lebihan) dalam menetapkan Karomah yaitu dari kalangan orang-orang “Sufi” dan para “Penyembah kubur”, yang menganggap segala keluarbiasaan itu sebagai Karomah, tanpa memperhatikan keadaan pelakunya atau pemiliknya.
    Ketiga: Orang-orang yang mengimani serta membenarkan adanya Karomah dan mereka tetapkan Karomah tersebut sebagaimana yang terdapat dalam Al Quran dan As Sunnah. Mereka itu adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
    (Lihat syarah Al Aqidah Al Wasithiyah oleh As Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan hal: 207-208)

    Wallahu A’lam bis Shawab

  40. satrio kanigoro Says:

    Menurut pengalaman saya pribadi, setiap orang yang mengoptimalkan akal dan kehausannya akan kedekatan dengan Allah SWT, tentu tidak akan berhenti untuk terus ‘belajar’ bagaimana mencintai Rosulullah SAW, mencintai siapa saja yang dicintai Allah SWT, mencintai siapa saja yang dicintai Rosulullah SAW, dan pada akhirnya mencintai Islam secara kaffah.

    Setiap diri adalah pencari kebenaran, maka sayapun melaksanakan ini dengan memahami “Ihdinashshirotol mustaqiim.” Selalu ayat ini diulang2 dalam sholat karena termaktub dlm surat Al fatihah. Dengan ridho-Nya semoga kita benar-benar ditunjukkan jalan yang lurus, jalan kebenaran, jalan yang sudah disediakan Allah bagi yang mau menempuhnya.

    Adapun soal Wali Songo adalah mitos atau benar-benar nyata, silakan berziarahlah. Semoga Allah SWT memberikan pemahaman kepada hati dari setiap kita untuk dapat mencintai para Waliyullah penyebar agama Islam di tanah Jawa tsb.

    Adapun soal kritik mas Ibnu Fauzi ttg film yang dilebih-lebihkan tantang ilmu dan karomah mereka, lebih baik kita melihatnya dengan kalimat, “tidak ada yang tidak mungkin jika Allah SWT menghendaki”.

    • ibnu fauzy Says:

      ayat ujian bagi seorang yg mengaku mencintai Allah “Katakanlah (wahai muhammad): Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran: 31).
      maksud ihdinash shirotol mustaqim adalah mengikuti jalan yang ditempuh NAbi dan sahabat..
      soal film, mungkin lebih baik kita katakan : ada-ada saja ide si sutradara..

  41. macanali Says:

    ass. tak ad kata yg bisa terungkap kecuali saling belajar dan saling mengisi tuk kebenaran…..tauladani aklaknya ,perjuanganya, kesabaranya dll. insah allah hidup akan lebih berarti

  42. dwi setyawan Says:

    terus berjuang akhi’ fauzy, sesunguhnya Allah bersama-sama orang yang sabar, semoga pintu rahmat dibukakan bagi mereka yang masih menolak adanya kebenaran. semoga anak cucu dan bangsa kita dijauhkan dari syirik dan bid’ah..
    syukron, dwi..

  43. zulkifli Says:

    truz crta tntang ashabul kahfi gmna mas, yg tdr 360thn, mereka kan gak sholat , gk buang air, sama halnya dengan sunan kali jogo….

  44. Thewayoflove Crf Tauhid Says:

    menurutku…. anda terlalu sibuk memikirkan sejarah dan kebenaranya… seakan” anda mencari sensi blaka… sejauh mana anda beribadah….? illahi anta maksudi wa ridhoka matlubi………

  45. Thewayoflove Crf Tauhid Says:

    jadi ingat kata pa kiyai,…
    ORANG ISLAM HANCUR KARENA ORANG ISLAMNYA SENDRI,…
    mas ibnu fauzi,…tolong fikirkan kata2 saya anda org yg trmasuk apa bukan,.???
    jawabanya ada dlm diri anda sendiri,..
    Dan sy sarankan jgn cari kepinteran tuk mncari kelemahan org lain,.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.